Lifestyle & Entertainment

Tips Dapatkan Hasil Virtual Photography yang Keren

Sumber: Canon

Sejak pandemi melanda, berbagai tren baru menunjukkan peningkatan. Sebut saja belanja digitial, semakin masifnya pembentukan cashless society, hingga virtual photography. Apa itu virtual photography? Bagaimana cara kerjanya?

Yase Defirsa Cory, Senior Marketing Manager PT Datascript menjelaskan virtual photography adalah kegiatan fotografi di mana fotografer san model tidak berada di tempat yang sama. Di antara mereka ada objek penghubung seperti gawai dan aplikasi komunikasi seperti video call.

“Pandemi yang menyebabkan pembatasan sosial besar-besaran tidak hanya berdampak pada industri-industri esensial, tapi juga industri kreatif. Pembatasan ini menjadi tantangan, artinya pasti ada solusi. Para pelaku kreatif memutar otak bagaimana harus tetap berkerja dan menghasilkan, dan di sinilah mereka akhirnya memanfaatkan teknologi digital untuk melakukan fotografi,” kata Yase di gelaran Jakarta Marketing Week 2020, Rabu (18/09/2020)

Dalam melakukan fotografi jenis ini, tentu ada tangan tersendiri. Yase mengatakan tidak jarang masalah koneksi hingga tidak mendukungnya gawai mejadi masalah yang tidak terelakkan.

Untuk itu, katanya, harus ada setidaknya lima hal yang dipenuhi. Di antaranya tripod dan kamera yang mumpuni, laptop atau gawai, aplikasi video call, koneksi internet yang baik, dan properti.

“Fotografer bisa melakukan dua hal untuk memotret, yaitu dengan screen capture atau memotret monitor gawai. Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan,” lanjut Yase.

Jika memotret dengan screen capture, fotografer dapat melakukannya dengan mudah. Namun tantangannya adalah resolusi yang rendah dan tidak bisa mengatur foreground sehingga hasil foto bisa jadi biasa saja. Sementara itu jika memotret monitor gawai, fotografer bisa lebih leluasa berkreasi dengan foreground dan foto yang dihasilkan memiliki resolusi tinggi. Meskipun begitu, metode ini memerlukan perhatian khusus agar foto tidak memiliki pantulan cahaya pada monitor dan pixelated.

Untuk menjaga resolusi gambar pada virtual photography, fotografer perlu memastikan bahwa model tidak menggunakan kamera bawaan laptop. Tantangan ini bisa diatasi dengan penggunaan kamera ponsel yang lebih baik atau menghubungkan laptop dengan kamera tambahan.

“Untuk fotografer sendiri, saat memfoto juga harus diperhatikan bukaan lensa jangan terlalu wide, soft focus lebih baik, dan usahakan angle kamera bisa mengurangi pixelated,” tambahnya.

Selain itu, fotografer juga harus mengatur komposisi dan cahaya. Di sini, kemampuan untuk mengarahkan model agar bisa mengatur cahaya sendiri dan berpose dengan baik di depan kamera sangat dibutuhkan.

“Komunikasi harus dilakukan dengan jelas. Karena jauh, tambahan tugas untuk fotografer adalah memberikan arahan dengan lebih baik dan komunikatif. Yang pasti, fotografi jenis ini bisa dilakukan semua orang jika ingin belajar,” pungkas Yase.

MARKETEERS X








To Top