Transaksi Cardless Bisa Turunkan Risiko Penipuan Perbankan

profile photo reporter Clara Ermaningtiastuti
ClaraErmaningtiastuti
14 Juni 2022
marketeers article
Transaksi cardless atau tanpa kartu dapat membantu meminimalisir risiko penipuan. | Foto: 123RF
PT Bank Central Asia Tbk. atau BCA menyatakan perang terhadap segala tindakan penipuan di sektor perbankan. BCA tak berhenti untuk mengedukasi masyarakat, terutama nasabah mereka melalui berbagai saluran. Tidak hanya berusaha lewat literasi saja, BCA juga menyarankan nasabah untuk beralih ke cardless atau tanpa kartu untuk transaksi yang lebih aman.
“Risiko skimming bisa diminimalisasi dengan transaksi cardless karena ketika melakukan transaksi tersebut, notifikasinya bisa muncul hanya pada saat itu saja atau punya periode validity kurang lebih satu jam setelah itu expired,” kata I Ketut Alam Wangsawijaya, EVP Transaction Banking Business Development BCA.
Ketut menuturkan transaksi cardless di BCA terus meningkat lantaran pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir. Namun, di sisi lain ada faktor kenyamanan yang dirasakan langsung nasabah.
Penipuan perbankan memang menjadi perhatian bagi BCA. Terlebih lagi, akhir-akhir ini marak penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Karena itu, BCA juga mengimbau nasabah untuk lebih berhati-hati dan mulai melakukan transaksi cardless.
Setiap harinya, ada sekitar 55 juta sampai 60 juta transaksi terjadi dari seluruh wilayah operasional BCA. Sebab itu, tidak heran nasabah menjadi sasaran para pelaku kejahatan.
Untuk melindungi nasabah, BCA pun tidak tinggal diam. Mereka bahkan mempersiapkan dana sekitar Rp 500 miliar dari belanja modal sebesar Rp 5 triliun tahun ini untuk meningkatkan sistem keamanan, khususnya siber.
“Kita harus bersama-sama memerangi hal itu. Kami akan terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik,” Adrianus Wagimin, EVP Individual Customer Business Development BCA.
Senada dengan Adrianus, Ketut menambahkan BCA akan terus berusaha meningkatkan keamanan dalam bertransaksi. Namun, hal itu harus diimbangi dengan literasi dan kehati-hatian nasabah. Dia mengakui, dalam hal edukasi terkait penipuan, perusahaan juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya, tidak ada kanal yang bisa menyampaikan informasi ke setiap lapisan masyarakat. 
“Karenanya, kami harus mengombinasikan berbagai fungsi dan jangkauan media sosial. Kami harus hadir di berbagai kanal,” tutur Ketut.
Editor: Ranto Rajagukguk

Related