Tumbuh 15%, Penjualan Mobil Honda Tembus 91.393 Unit Pada Tahun 2021

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
15 Februari 2022
marketeers article
GENEVA, SWITZERLAND MARCH 5, 2019: Honda HR-V car showcased at the 89th Geneva International Motor Show.

Pabrikan otomotif roda empat asal Jepang, Honda baru saja melaporkan kinerjanya sepanjang tahun 2021. Tercatat, penjualan mobil Honda mampu mencapai 91.393 unit di seluruh Indonesia pada tahun 2021. Jumlah ini meningkat sebesar 15% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 (year on year/yoy).

PR and Digital Manager PT Honda Prospect Motor Yulian Karfili mengatakan, secara umum industri otomotif nasional pada tahun lalu menunjukkan tren positif. Meskipun penjualan belum pulih seperti tahun 2019 atau sebelum merebaknya pandemi COVID-19, namun keadaan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2020.

“Karena situasi pasar yang sudah mulai banyak aktivitas ekonomi, kondisi ini sudah mulai membaik. Pasar ini meningkat sekitar 49% secara total dibandingkan tahun 2020. Memang belum mencapai keadaan tahun 2019 sebelum adanya pandemi yang mencapai 1 juta unit. Tapi penjualan yang dicapai oleh Honda meningkat sekitar 15%,” ujar Yulian dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (15/2/2022).

Menurut dia, pada tahun 2020 penjualan mobil Honda hanya dapat menyentuh angka 79.451 unit. Adanya peningkatan penjualan karena pemerintah memberikan kebijakan berupa Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP).

Sementara itu, kata Yulian, secara keseluruhan kebijakan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap kinerja industri otomotif nasional. Tercatat, penjualan mobil seluruh merek pada tahun 2020 hanya 578.762 unit. Sedangkan pada tahun 2021 meningkat menjadi 863.692 unit.

“Beberapa poin yang bisa membantu pemulihan pasar salah satunya kegiatan ekonomi yang mulai berjalan, tingkat kasus COVID-19 yang mulai menurun, dan vaksinasi yang mulai terjadi. Sehingga pasar lebih percaya diri. Ditambah, adanya kebijakan yang sangat mendukung, yakni PPnBM yang mampu meningkatkan demand,” ujarnya.

Kendati demikian, Yulian mengaku khawatir dengan kinerja pada tahun 2022. Sebab, industri otomotif secara global tengah mengalami krisis kelangkaan chip semikonduktor untuk perangkat elektronik mobil. Komponen ini sangat penting digunakan dalam mobil lantaran fungsinya untuk menggerakkan berbagai piranti dari mulai lampu, perangkat elektronik, hingga kemudi mobil.

Dia menyebut kelangkaan pasokan chip semikonduktor karena merebaknya pandemi. Sehingga negara-negara produsen mengurangi kapasitas produksi yang disebabkan kekurangan tenaga kerja akibat terpapar virus. Kondisi kian diperburuk dengan terhambatnya proses pengapalan dan pengiriman akibat kebijakan karantina wilayah atau lockdown.

“Jadi sayang sekali di tengah permintaan pasar otomotif yang menanjak, pandemi membawa dampak terhadap jaringan pasokan komponen secara global atau kita sebut dengan global supply chain. Masalahnya muncul ketika ada permintaan suatu produk untuk komponen yang sangat meningkat di tengah pandemi, sementara jaringan itu terganggu karena adanya kekurangan tenaga kerja karena COVID-19 dan ada banyak logistik yang mengurangi aktivitasnya,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related