Digital

Universal Robots: Sudah Saatnya Industri Manufaktur Indonesia Adopsi Teknologi Cobots

Foto: Universal Robots

Universal Robots (UR), pemimpin pasar teknologi robot kolaboratif (cobots) yang berbasis di Denmark, mendorong perusahaan manufaktur Indonesia untuk segera mempercepat pengadopsian otomatisasi robot. Teknologi ini dinilai akan meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi tingkat kecelakaan kerja.

Dalam tahun tahun terakhir di Indonesia, dilaporkan telah terjadi kenaikan kecelakaan kerja hingga 55.2% dari tahun sebelumnya. Menurut data BPJS Ketenagakerjaan, terjadi kecelakaan kerja sebanyak 114.000 kasus pada tahun 2019 menjadi 177.000 kasus pada tahun 2020. 

Di sisi lain, sebagian besar perusahaan manufaktur lokal masih menghadapi persoalan kurangnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil. Hal ini dinilai membuat produktivitas dan pertumbuhan secara keseluruhan menjadi terhambat. Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia pada tahun 2020, 57,5% dari total 126,51 juta penduduk yang bekerja di Indonesia, memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Hal ini tentunya sangat memengaruhi rendahnya kesadaran pekerja akan pentingnya budaya K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).  Pada saat yang sama, pemberi kerja juga berisiko harus menanggung biaya yang besar apabila kecelakaan kerja di tempat kerja terjadi.

“Melihat kondisi ini, teknologi collaborative robot (cobots) diciptakan untuk membantu melaksanakan tugas-tugas yang mungkin berbahaya atau rawan cedera bagi manusia. Dengan fitur keselamatan yang terpasang, sebuah robot tangan (robot arm) dapat menyesuaikan/memperlambat kerjanya pada saat seseorang memasuki ruang kerja,” papar James McKew, Regional Director of Asia Pacific di Universal Robots.

Selain itu, cobot juga dapat melindungi seseorang dari resiko cedera karena mengerjakan tugas yang terus berulang dan berbahaya di sektor manufaktur. Dari poin ini pula, istem keselamatan Universal Robots memungkinkan perusahaan menyesuaikan berbagai macam parameter untuk meminimalisir risiko yang terjadi dengan penerapan aplikasi robot industri.

Hal ini termasuk membatasi gaya, kecepatan, kekuatan atau momentum robot, atau bahkan membatasi ruang kerja dengan menggunakan sebuah batas keamanan. Peningkatan produktivitas yang dibarengi dengan desain solusi cobot yang aman dan inheren, menunjukkan bahwa teknologi automasi ini dapat mengurangi hingga 72% penyebab umum kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan manufaktur.

“Saat ini kita semakin mendekati visi Industri 5.0 dengan kondisi sebuah pabrik yang cerdas dapat mengkolaborasikan manusia dan alat berat bekerja secara bersama-sama. Tentu sistem ini dijalankan dengan tetap mementingkan persyaratan keselamatan dan kepatuhan di tempat kerja,” lanjut James.

Tidak diragukan lagi, tenaga kerja kolaboratif yang menampilkan manusia dan robot saling melengkapi satu sama lain dalam peran mereka masing-masing. Sistem ini juga menawarkan peluang yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas manufaktur, inovasi, keselamatan, dan kepuasan kerja secara keseluruhan di tempat kerja.

Lebih jauh, James juga menekankan bahwa perusahaan juga dapat mencapai Return On Investment (ROI) yang lebih cepat dengan menggunakan cobots untuk memberikan waktu pekerja beristirahat dan memungkinkan mereka menangani proses produktivitas yang lebih tinggi dan pada akhirnya memperoleh sebuah keterampilan baru.

Tidak seperti robot tradisional yang membutuhkan pemrograman tingkat tinggi, yang hanya bisa diaplikasikan oleh lulusan setingkat insinyur, cobots dirancang untuk membuat pemrograman yang sederhana melalui human-machine interfaces (HMI), yang diklaim akrab bagi semua orang yang telah menggunakan smartphone. 

Untuk aplikasi yang lebih kompleks, Universal Robots telah memiliki sistem jaringan bersertifikasi yang lengkap dan terintegrasi dan pusat pelatihan resmi yang siap mendukung pengguna dengan kegiatan operasional sehari-hari, setelah instalasi awal dilakukan. 

Dengan menghilangkan kebutuhan akan pendidikan formal dalam pemrograman atau robotika, membuat kesenjangan keterampilan dan kurva pembelajaran untuk menggunakan cobots semakin kecil. 

Di sini, Universal Robots mendorong industri lokal untuk segera mengadopsi teknologi mesin yang bisa berkolaborasi dengan manusia dan tidak perlu khawatir lagi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh karena kurangnya tenaga kerja terampil. 

Kolaborasi ini sangat menghemat waktu, mengurangi tenaga dan biaya yang terkait dengan penggunaan cobots yang sama untuk berbagai tugas. Pasalnya, fleksibilitas cobots dapat diterjemahkan menjadi laba atas investasi yang jauh lebih cepat

MARKETEERS X








To Top