Lifestyle & Entertainment

Urusan Traveling, Generasi Y Paling Risk Taker

Industri pariwisata baik di tingkat global dan domestik terpukul oleh pandemi COVID-19. Padahal, industri ini selalu mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Menurut data Bloom Consulting, sejak tahun 2016 hingga 2019, setiap tahun rata-rata kedatangan turis mancanegara mencapai 6,7%. Sedangkan yang melakukan pencarian terkait traveling rata-rata naik 13,4%.

Salah satu faktor utama yang mendorong aktivitas perjalanan wisata turun drastis adalah penurunan jumlah penerbangan hingga 80% di seluruh dunia. Data dari Bloom Consulting juga menunjukkan pada April 2020, terjadi penurunan perjalanan wisata hingga 50% dibanding bulan sebelumnya.

Pandemi ini juga telah memukul sektor lain dan secara umum berdampak negatif pada perekonomian. Sehingga, untuk beberapa waktu ke depan, orang memilih tidak melakukan traveling.

Bloom Consulting melakukan riset dengan menyajikan tiga skenario untuk melihat seberapa besar keiinginan orang untuk berwisata. Skenario pertama dengan kondisi virus masih ada dan menjadi bagian hidup orang. Responden ditanya apakah bersedia melakukan perjalanan wisata dalam 12 bulan ke depan. Hasilnya, 55% masih mau, sisanya tidak.

Kemudian, di skenario kedua adalah virus sudah hampir hilang dan ada antivirus. Masih dengan pertanyaan yang sama, hasilnya 65% bersedia, dan sisanya tidak. Sedangkan skenario ketiga adalah virus benar-benar hilang, hasilnya hanya 85% bersedia, tidak semua responden.

“Industri pariwisata global akan kehilangan sekitar 15% potensi pasar di masa mendatang. Mereka sudah punya persepsi berbeda tentang berwisata karena banyak faktor,” kata Gonzalo Villar, Strategy Director, Bloom Consulting di acara Planet Tourism Indonesia 2020, yang digelar MarkPlus Tourism, hari ini (29/07/2020).

Faktor-faktor tersebut, lanjut Villar, di antaranya banyak orang kehilangan daya beli. Lalu, tidak semua orang yang punya uang mau berwisata karena lebih memikirkan kepentingan hidup jangka panjang. Ada juga sebagian yang punya perspektif lain tentang kesehatan.

Di antara mereka yang masih akan melakukan traveling, generasi Y yang keiinginannya paling kuat. Hal ini ditunjukkan di hampir semua skenario yang disodorkan.

“Generasi Y atau millenial masih yang tertinggi dalam kemauan berwisata di hampir semua skenario. Generasi Z cenderung tidak sebanyak generasi sebelumnya ini. Namun, saat kondisi sudah benar-benar pulih atau skenario ketiga, generasi X yang tertinggi,” jelas Villar.

Dengan kata lain kebanyakan generasi X memilih berwisata saat sudah normal tidak ada virus. Sedangkan generasi Y cenderung tetap berwisata di berbagai kondisi. “Terkait, traveling generasi Y paling risk taker,” pungkasnya

MARKETEERS X








To Top