Usai Disepakati IA-CEPA, Indonesia Bisa Ekspor Mobil ke Australia

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
24 Februari 2022
marketeers article
Close view of part of new black car in a car dealership
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, usai disepakatinya perjanjian dagang antara Indonesia dan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) mampu meningkatkan ekspor. Saat ini, mobil menjadi salah satu komoditas andalan ekspor ke Negeri Kanguru.
“Ekspor mobil telah menjadi primadona ekspor Indonesia saat ini. Bahkan pada 15 Februari lalu, Indonesia telah berhasil melakukan ekspor perdana produk mobil ke Australia sebagai salah satu implementasi IA-CEPA,” kata Lutfi melalui keterangan resmi Kemendag, Kamis (24/2/2022).
Dari penuturan Lutfi, sektor perdagangan internasional pada tahun 2021 tumbuh dengan sangat membanggakan. Dia bilang, sekarang Indonesia sedang bertransformasi menjadi negara yang menjual barang industri dan industri berteknologi tinggi.
Hal ini merupakan komitmen Indonesia untuk mendorong peningkatan nilai tambah barang komoditas dasar pertambangan. Selain itu, pasar Indonesia yang besar juga menjadi magnet investasi untuk menjadi sentra produksi.
“Catatan yang membanggakan dari ekspor non-migas Indonesia pada tahun 2021 adalah empat dari lima produk ekspor utama merupakan barang-barang industri dan industri berteknologi tinggi. Komoditas yang dimaksud adalah crude palm oil (CPO) dan turunannya sebesar US$ 32,83 miliar, besi baja sebesar US$ 20,95 miliar, dan produk elektrik dan elektronika senilai US$ 11,80 miliar. Ada juga kendaraan bermotor dan suku cadangnya sebesar US$ 8,64 miliar,” ungkapnya.
Lutfi menambahkan, salah satu hal penting dari capaian ekspor tahun 2021 adalah komitmen Indonesia terhadap hilirisasi produk pertambangan. Ini akan menjadi game changer Indonesia di masa yang akan datang.
“Penutupan ekspor barang mentah seperti nikel di masa lalu telah mendorong peningkatan ekspor besi baja Indonesia yang luar bisa saat ini. Bahkan, tumbuh hampir 93% pada tahun 2021 secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan hilirisasi nikel ini akan diikuti komoditas tambang lainnya seperti bauksit,” pungkasnya.
Editor: Sigit Kurniawan

Related