Digital

Usung Sustainable Business, Gojek Berhasil Kurangi Penggunaan 3 Juta Alat Makan Sekali Pakai

Sumber: Gojek

Gojek menjajal lini bisnis baru dengan melirik potensi bisnis pelestarian lingkungan. Pada Senin (14/09/2020), Gojek menggandeng salah satu alumni program inkubasinya, Jejak.in meluncurkan fitur baru GoGreener Carbon Offset.

Dijelaskan oleh Kevin Aluwi, Co-Founder dan Co-CEO Gojek, fitur ini membantu pengguna Gojek untuk menghitung jejak karbon yang dihasilkan dan mengkonversikannya menjadi penanaman pohon.

“Inovasi ini menjadikan Gojek sebagai layanan ride-hailing pertama di Indonesia, bahkan dunia yang mengembangkan carbon offset dengan konsep B2C. Fitur ini juga menjadi upaya gotong royong untuk menjaga kelestarian lingkungan,” klaim Kevin.

Fitur baru ini tersedia melalui shuffle card yang ada di aplikasi Gojek. Untuk menjaga tranparansi dalam proses konversi, pengguna Gojek bisa mengakses dashboard GoGreener Carbon Offset dan memantau pertumbuhan pohon, diameter, hingga tinggi pohon. Melalui program ini, Gojek dan Jejak.in memberdayakan petani dari komunitas Lindungi Hutan sebagai mitra konservasi yang membantu proses penanaman, pemantauan, dan pelaporan pertumbuhan pohon.

“Ide ini berasal dari kondisi gaya hidup peduli lingkungan yang semakin marak dilakukan, namun tidak maksimal dengan kenyataan bahwa masih banyak jejak karbon yang tertinggal di tiap kegiatan konsumsi. Bersamaan dengan itu, kami berusaha membangun kolaborasi teknologi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik,” jelas Arfan Arlanda, CEO & Founder Jejak.in.

Program GoGreener sendiri telah diluncurkan Gojek sejak tahun 2019 lalu. Program ini dimulai dengan memberikan pilihan bagi konsumen untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai. Dari data internal Gojek, hingga Agustus 2020, perusahaan itu telah berhasil mengurangi penggunaan 3 juta alat makan sekali pakai yang setara dengan 10,3 ton plastik.

“Artinya ada peluang untuk memperbesar peranan dalam mengurangi jejak karbon. Jika strategi sebelumnya adalah mengurangi langsung dari konsumsi, kini Gojek mengajak konsumen untuk membeli pohon, merawat pohon, hingga membentuk hutan untuk menyerap karbon secara digital,” kata Kevin.

Dalam rangka mengenalkan fitur barunya ini, Gojek menerapkan strategi penggandaan jumlah pohon yang ditanam pengguna. Program ini akan berlangsung hingga enam bulan setelah peluncuran. Pada periode ini juga, Gojek memasuki fase pertama penanaman. Ditandai dengan menanam pohon jenis bakau di Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk, Konservasi Mangrove Bedono Demak, dan Konservasi Laskar Taman Nasional Mangrove Park Bontang.

“Cita-cita fitur ini adalah mengurangi karbon melalui perluasan ruang hijau dan hutan kota. Setelah fase pertama, akan ada fase selanjutnya seperti opsi lokasi, jenis poho, juga pengembangan bentuk penyerapan karbon seperti adopsi pohon,” tutup Arfan.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top