WFO Mulai Marak, Bagaimana Tren Sewa Gedung Perkantoran?

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
10 Juni 2022
marketeers article
Ilustrasi work from office, sumber gambar: 123rf
Pemerintah telah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial untuk memutus penyebaran pandemi COVID-19 yang mulai terkendali. Seluruh aktivitas masyarakat pun secara bertahap mulai dibuka kembali, termasuk karyawan yang kembali bekerja di kantor. Lantas, apakah kebijakan tersebut memberikan dampak yang positif terhadap permintaan gedung perkantoran?
Bagus Adikusumo, Senior Director Office Services Department PT Colliers International Indonesia memperkirakan industri persewaan gedung perkantoran masih akan tertekan hingga beberapa tahun ke depan. Pasalnya, pasokan gedung perkantoran yang sangat banyak tidak diimbangi dengan permintaannya.
Bagus menyebut, industri penyewaan gedung perkantoran erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Apabila pertumbuhan ekonomi tinggi, maka akan terjadi peningkatan permintaan sewa gedung. Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhannya cenderung stagnan dan bahkan sempat menyentuh level minus.
“Pendapat saya work from home (WFH) masih akan terus dilakukan sampai beberapa tahun ke depan. Sampai ancaman COVID-19 ini dianggap sudah bisa ditangani dengan baik. Pemerintah Indonesia pun sudah mengambil kebijakan seperti negara-negara di Eropa. Mereka sudah mulai membuka diri dan menurunkan status menjadi endemi, itu mungkin akan terjadi perubahan cara kerja lagi,” ujar Bagus kepada Marketeers, (10/6/2022).
Merebaknya wabah dan kebijakan WFH pada tahun 2021 membuat okupansi gedung perkantoran di wilayah pusat bisnis (central business district/CBD) terjun bebas hingga 77%. Padahal, lima tahun sebelumnya okupansi mencapai 90%. Rata-rata setiap perusahaan saat memperpanjang sewa kantor mengurangi jumlah ruangan sebesar 15% hingga 35%. Biasanya mereka melakukan sewa dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun.
“Kondisinya semakin diperburuk dengan terkontraksinya pertumbuhan ekonomi. Sebab, permintaan ruang perkantoran itu sangat kuat korelasinya dengan pertumbuhan ekonomi. Apabila pertumbuhannya naik 5%, maka permintaan gedung juga naik 5%. Sedangkan pada tahun 2020 pertumbuhannya minus dan 2021 hanya 3%, sementara supply masih banyak otomatis okupansi rate perkantoran tergerus,” ujarnya.
Bagus memperkirakan bisnis penyewaan gedung perkantoran masih akan terus tertekan hingga tahun 2023. Hal itu terjadi karena jumlah pasokan yang melimpah sedangkan permintaan cenderung menurun atau stagnan setiap tahun. Secara terperinci, jumlah gedung perkantoran di kawasan CBD yang belum terisi pada tahun 2021 sebanyak 110 ribu. Kemudian, meningkat pada tahun 2022 menjadi 360 ribu dan tahun 2023 sebanyak 120 ribu. Adapun jumlah tersebut merupakan pasokan gedung perkantoran yang baru selesai dibangun hingga tahun 2023.
Di sisi lain, untuk dapat mempertahankan bisnis para pengusaha gedung perkantoran setidaknya harus bisa medapatkan okupansi minimal 70%. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk operasional setiap bulan. Namun, untuk mencapai angka tersebut di saat kondisi ekonomi yang stagnan dan cenderung menurun tidak mudah. Adanya potongan harga tak serta-merta meningkatkan permintaan.
Dalam hal ini, pemerintah perlu segera turun tangan agar dapat menciptakan permintaan yang tinggi. Sehingga pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi kunci agar perusahaan-perusahaan swasta mampu melakukan ekspansi dan meningkatkan permintaan gedung perkantoran baru.
“Jadi sekarang itu permintaan kantor secara umum masih sedikit karena pertumbuhan ekonomi kita secara rata-rata masih di bawah 5%. Tahun 2022 diharapkan bisa tumbuh 6% dan kami yang masih menunggu hasil itu karena supply sudah banyak banget,” pungkasnya.
Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related