Consumer Goods

Yang Perlu Diperhatikan Ketika Perilaku Konsumen Berubah

Beberapa kota di Indonesia sudah memasuki masa transisi. Berbagai usaha mulai beroperasi kembali dengan menjalankan protokol kesehatan ditetapkan oleh pemerintah. Bagi pemilik usaha, ini merupakan kesempatan untuk menggerakkan kembali roda perekonomian yang sempat melambat.

Menurut Devina Halim, VP Investment East Ventures menjelaskan turunnya daya beli masyarakat merupakan salah satu ripple effects dari COVID – 19, karena berkurangnya penghasilan yang disebabkan oleh pemotongan gaji atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, ini saatnya bagi pemilik usaha untuk melakukan penataan ulang fungsi – fungsi perusahaan untuk mencapai efisiensi yang lebih baik.

“Dengan melakukan penataan ulang, pemilik usaha dapat mengatur ulang pos pembiayaan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran baru seperti pemenuhan kebutuhan protokol kesehatan,” ujar Devina.

Fase normal baru menjadi tantangan sendiri bagi pemilik usaha agar bisa bertahan ditengah perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat menjadi lebih peduli pada keamanan dan kebersihan, sehingga penerapan standar kesehatan sesuai anjuran sangat penting untuk dijalankan oleh seluruh pemilik usaha.

“Selain itu, akan ada perubahan perilaku konsumen khususnya bagi bisnis di sektor ritel atau pariwisata, sehingga dibutuhkan penyesuaian bisnis untuk memenuhi kebutuhan baru masyarakat di masa new normal,” tambah Devina.

Menurut Standie Nagadi, VP Marketing Mekari menyebutkan saatnya pemilik usaha menjadi bagian dari ekosistem digital ekonomi dan bertransformasi penuh dengan mengaplikasikan teknologi guna memaksimalkan operasional bisnis.

“Sehingga pemilik usaha bisa mengambil keputusan bisnis yang strategis dan penuh kehati – hatian untuk mengupayakan manajemen keuangan usaha tetap sehat di masa krisis ini,” tutupnya.

MARKETEERS X








To Top