5 Hal Ini Bisa Bantu Tingkatkan Penjualan lewat Live Streaming

profile photo reporter Clara Ermaningtiastuti
ClaraErmaningtiastuti
13 Juni 2022
marketeers article
Shoppertainment atau kombinasi pengalaman belanja dengan hiburan lewat live streaming terus berkembang. | Foto: 123RF
Live streaming kini telah menjadi strategi pemasaran yang diperhitungkan. Pasalnya, penjual dapat memasarkan produknya dengan lebih unik, informatif, menghibur, serta interaktif. Kombinasi pengalaman belanja dengan hiburan ini terus berkembang dengan sebutan shoppertainment.
Live streaming sudah menjadi tren yang terus berkembang sebagai salah satu bentuk promosi yang efektif di e-commerce. Lazada pun tidak ketinggalan untuk menghadirkan layanan ini untuk dimanfaatkan oleh para penjual di dalam aplikasi mereka, yakni dengan menghadirkan kanal LazLive.
Salah satu yang memanfaatkan fitur ini adalah penyedia layanan top up games dan berbagai produk digital lainnya, UniPin. Poeti Fatima, General Manager Business Unipin mengungkapkan mereka mampu meningkatkan penjualan melalui pemanfaatan LazLive.
“Unipin berhasil mencatatkan penjualan fantastis dengan peningkatan hingga lebih dari 50% lewat pemanfaatan LazLive. Kami mengimplementasikan fitur ini untuk strategi penjualan kami,” ujar Poeti.
Lebih lanjut, Poeti membagikan lima hal yang perlu diperhatikan saat menjalankan strategi penjualan lewat live streaming.
Kenali Target Pasar
Mengapa hal ini penting? Poeti menjelaskan penjual haruslah mengetahui dan mengenali karakter dari target konsumennya. Dengan demikian, konten yang dihasilkan saat live streaming bisa menjadi lebih menarik dan memenangkan hati konsumen. Konten menarik adalah yang relevan dengan konsumen dan produk yang dijual.
Poeti menjelaskan dari sisi UniPin, target konsumennya adalah gamer. Dengan demikian, konsep yang dihadirkan UniPin harus berkaitan dengan kebutuhan dan minat para pemain game. Misalnya dengan mengundang influencer gaming, membahas gim atau memberikan tips bermain gim.
Pilih Waktu Siaran yang Tepat
Tidak hanya konten yang menarik, penjual harus memilih waktu yang sesuai sehingga bisa disaksikan banyak orang. Poeti menyarankan penjual untuk bisa mengidentifikasikan waktu terbaik untuk mereka melakukan siaran langsung
“Waktu terbaik untuk live streaming, bisa saat tanggal gajian, saat megacampaign, akhir pekan, atau jam pulang kerja,” tutur Poeti.
Momentum untuk Branding
Bagi UniPin, live streaming tidak hanya dimanfaatkan untuk melakukan penjualan tetapi juga branding. Poeti mengatakan sesungguhnya siaran langsung ini juga bisa dijadikan sebagai platform branding. Jadi penjual tidak harus mengejar keuntungan penjualan, tapi juga bisa mendapatkan return of investment yang jelas dengan menganggap live streaming sebagai platform untuk branding agar bisa terus lebih dekat dan melibatkan konsumen.
Strategi FOMO
Untuk mendorong agar penonton melakukan transaksi saat siaran langsung, Poeti menjelaskan UniPin menggunakan strategi fear of missing out (FOMO) dengan diskon besar-besaran hingga 50%. Strategi ini dilakukan untuk menciptakan urgensi bagi konsumen agar tidak melewatkan diskon besar-besaran dan membeli produk. 
Biasanya UniPin memberikan batas waktu untuk diskon ini, dari 15 menit hingga 30 menit. Secara tidak langsung, batas waktu ini akan memengaruhi cara berpikir konsumen untuk segera membeli produk yang ditawarkan.
Pembawa Acara Harus Memiliki Product Knowledge Tinggi
Tingkat pengetahuan produk (product knowledge) pembawa acara dalam live streaming juga memengaruhi. Mengapa hal ini penting? Karena dengan demikian, live streaming bisa menjadi alat pemasaran yang efektif.
“Dengan tingkat product knowledge yang tinggi, pembawa acara bisa memberikan edukasi terhadap suatu produk maupun mendorong terjadinya transaksi saat live streaming berlangsung. Product knowledge yang tinggi juga dapat mengurangi risiko terjadinya kurang interaksi,” ujar Poeti.
Pertumbuhan tren shoppertainment terus berkembang di Indonesia. Tidak sedikit yang memanfaatkan live streaming untuk menjadi lebih dekat dengan konsumen dan mendapatkan loyalitas dari konsumennya. Dengan begitu, bukan hanya untuk menggenjot penjualan saja.
Editor: Ranto Rajagukguk

Related