Ada 70 Juta UKM di ASEAN, Tingkat Ekspor Hanya 18%

marketeers article
Ilustrasi produk lokal, sumber gambar: Kemenkop UKM

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) melaporkan hingga sekarang jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) sebanyak 70 juta. Kendati demikian, hanya 18% yang bisa menembus pasar ekspor.

Hanung Harimba Rachman, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM menuturkan UKM merupakan tulang punggung perekonomian baik di Indonesia maupun negara lain. Meski begitu, bisnis ini memiliki berbagai tantangan mulai dari keterbatasan modal hingga kualitas produk yang masih cukup rendah.

BACA JUGA: 10 Langkah Wajib UKM Ketika Ingin Menjajaki Pasar Ekspor

“Terdapat lebih dari 70 juta UKM di ASEAN, namun tingkat ekspor rata-rata UKM di ASEAN masih rendah, yaitu sekitar 18%,” kata Hanung melalui keterangannya, Kamis (27/7/2023).

Menurutnya, transisi menuju produk-produk ramah lingkungan atau transisi hijau semakin menurunkan minat ekspor pelaku UKM. Sebab, di negara-negara tujuan ekspor sebagian besar telah menerapkan aturan kewajiban penggunaan produk ramah lingkungan.

BACA JUGA: Literasi dan Digitalisasi Jadi Kunci BNI Dorong UKM Go Global

Sementara itu, UKM di kawasan ASEAN masih sedikit yang telah melakukan transisi. Kondisi ini disebabkan oleh besarnya modal dan teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi produk ramah lingkungan.

“Maka dari itu, penting untuk memperkenalkan model bisnis yang ramah lingkungan antara lain dengan model ekonomi sirkular,” kata dia.

Hanung menyebut ekonomi sirkular merupakan sistem ekonomi yang bertujuan untuk menghilangkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya dengan menjaga siklus penggunaan, pemakaian kembali, dan regenerasi yang berkesinambungan. Ini mewakili pergeseran paradigma dari model linear tradisional ambil-produksi-buang menjadi pendekatan yang lebih berkelanjutan dan regeneratif.

“Pada intinya, ekonomi sirkular bertujuan untuk menciptakan sistem berkelanjutan di mana produk, material, dan sumber daya dirancang, diproduksi, dan dikelola dengan cara yang meminimalkan dampak lingkungan dan mendorong kemakmuran sosial dan ekonomi,” ucapnya.

Adopsi prinsip-prinsip ekonomi sirkular yang berhasil di wilayah ASEAN memiliki potensi dampak transformasional. Praktik ekonomi sirkular akan mengurangi jejak karbon, meminimalkan pembentukan limbah, dan melestarikan sumber daya alam, sehingga mengurangi degradasi lingkungan.

“Kami berharap inisiasi ini akan menjadi langkah maju dalam mewujudkan visi bersama untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di wilayah ASEAN,” katanya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS