Adopsi AI Generatif Beri Nilai Tambah Ekonomi US$ 4,5 Triliun

marketeers article
Ilustrasi AI. Sumber gambar: 123rf.

Adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam dunia bisnis diperkirakan bisa memberikan nilai tambah yang signifikan. Dalam penelitian terbaru yang diluncurkan Accenture, penggunaan AI generatif berpotensi memberikan nilai tambah sebesar US$ 4,5 triliun bagi perekonomian di kawasan Asia Pasifik.

Leo Framil, Chief Executive Officer (CEO) Growth Markets Accenture menjelaskan nilai tambah tersebut setara dengan peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,7% selama 15 tahun ke depan. Proyeksi tersebut didapatkan dengan catatan AI digunakan secara bertanggung jawab, dalam skala besar, serta berfokus pada aspek manusia.

BACA JUGA: Sambut Penerapan AI Generatif, MediaTek Rilis Dimensity 9300+

Potensi peningkatan nilai ekonomi ini bahkan bisa mencapai dua kali lipat apabila teknologi Gen AI diadopsi secara agresif, berdasarkan perhitungan tanpa investasi yang tepat pada sumber daya manusia dan sistem operasionalnya. Adapun penelitian ini menggabungkan model ekonomi yang dilakukan terhadap empat negara dengan perekonomian terbesar di Asia Pasifik, termasuk Australia, Cina, India, dan Jepang.

“Untuk memanfaatkan potensi tersebut sepenuhnya, para pemimpin perusahaan perlu melihat AI lebih dari sekedar alat untuk mendesain ulang proses dan mendorong efisiensi biaya. AI generatif perlu dilihat sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah bagi bisnis, individu, dan masyarakat,” kata Leo melalui keterangannya, Kamis (6/6/2024).

BACA JUGA: Inovasi AI Generatif, Meta Platforms Rilis Llama Model 3

Menurutnya, temuan dari penelitian ini, yakni komposisi pekerjaan yang menyita sebanyak 33% waktu dari karyawan di Asia Pasifik akan digantikan oleh AI generatif untuk kemudian dioptimalkan, sehingga dapat menghasilkan peningkatan produktivitas. Jam kerja di Australia dan Jepang akan terkena dampak paling besar, masing-masing sebesar 45% dan 44%, diikuti oleh Cina 33% dan India 31%.

Kemudian, sebanyak 96% pemimpin bisnis dan perusahaan di Asia Pasifik mengakui dampak signifikan dari AI generatif, dan 91% pekerja di Asia Pasifik menunjukkan minat mereka untuk memperoleh keterampilan baru agar dapat bekerja dengan AI generatif. Kendati demikan, hanya 4% pemimpin bisnis yang telah mengadakan pelatihan AI generatif dalam skala besar.

Selain itu, 89% perusahaan di Asia Pasifik berencana meningkatkan pengeluaran mereka untuk investasi teknologi AI generatif pada tahun 2024. Namun, hanya ada 35% yang memprioritaskan investasi pada pengembangan tenaga kerja mereka.

Industri yang paling terdampak adalah pasar modal yang mana AI generatif akan menggantikan keterlibatan manusia sampai dengan hampir 71% jam kerja serta perangkat lunak dan platform yang mana 66% jam kerja akan diotomatisasi atau dioptimalkan. Diikuti oleh perbankan sebesar 64%, asuransi 62%, dan ritel 49%.

“Kawasan Asia Pasifik sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, rumah bagi lebih dari 50% populasi dunia, dan kontributor utama dalam ekosistem inovasi teknologi sehingga memiliki peluang untuk memperlihatkan cara pengadopsian AI human-centric dan bertanggung jawab. Hal ini dapat mendorong produktivitas dan pertumbuhan berkelanjutan,” kata Leo.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS