Ancaman Resesi Global, Ini Cara Siapkan Jaring Pengaman Finansial

marketeers article
Sumber: 123RF

Ancaman resesi global menjadi isu yang terus mengemuka belakangan ini. Indonesia bahkan digadang-gadang terdampak resesi global di tahun depan. 

Resesi sendiri adalah siklus ekonomi saat Gross Domestic Product (GDP) minus secara dua kuartal berturut-turut. Lantas, bagaimana masyarakat menghadapi kondisi ini?

BACA JUGA: Ekonomi Kuartal III Tumbuh 5,27%, Bahlil Ingatkan Jangan Terbuai

Jika terjadi kejadian yang tidak terduga saat resesi ekonomi, kerugian yang harus ditanggung bisa jadi makin besar bagi masyarakat. Sebab, ada kemungkinan terjadinya penurunan penghasilan. 

Oleh sebab itu, bila dari sekarang masyarakat tidak memiliki jaringan pengaman finansial, akan sulit bertahan saat resesi. Hal ini disampaikan langsung oleh Ken Handersen, Founder of @gatherich.

BACA JUGA: Badai Resesi, TES Dorong Pelaku Usaha Maksimalkan Peluang

Ken menyarankan masyarakat memprioritaskan keselamatan diri dan keuangan keluarga untuk menghadapi resesi ekonomi melalui asuransi jiwa dan kesehatan. Untuk mempersiapkan dana asuransi, ia juga menyinggung soal arus kas positif, yakni pemasukan yang lebih besar daripada pengeluaran.

Selisihnya, dapat digunakan untuk melunasi utang. Jika utang sudah lunas atau nilainya berkurang, maka akan lebih leluasa untuk menyiapkan dana darurat dan asuransi hingga bisa berinvetasi.

“Risiko finansial yang besar kebanyakan berasal dari kebutuhan dana berjumlah besar dan cepat untuk biaya pengobatan atau berhentinya sumber pendapatan secara mendadak akibat pencari nafkah yang tidak dapat lagi bekerja atau tutup usia. Di sini, peran asuransi adalah untuk menjaga kondisi finansial keluarga dari dua risiko besar tersebut,” kata Ken dalam acara Talk Show #SuperSp3ktaDay Super You by Sequis Online, Kamis (24/11/2022).

Dia mengakui resesi global telah membuat kekhawatiran di berbagai negara. Namun demikian, perekonomian Indonesia masih tumbuh positif. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih dari 5% yoy pada kuartal III 2022. Akan tetapi, masyarakat perlu waspada akan ketidakpastian global. 

Salah satu hal yang dapat terjadi sebagai dampak ketidakpastian global adalah potensi kenaikan suku bunga untuk memperlambat inflasi. Ketika suku bunga naik, akan terjadi perlambatan ekonomi. 

Dampaknya, kemampuan daya beli masyarakat melemah karena berkurangnya penghasilan dan pengeluaran yang tinggi akibat harga kebutuhan pokok yang naik. Pada kesempatan yang sama, Kelly Patricia, Founder of @ladybossproject.id mengatakan informasi mengenai resesi terkadang enggan diketahui oleh sebagian masyarakat. 

Sebab, hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran. Menurutnya, memiliki kemampuan mengenai dampak resesi ekonomi akan membantu melakukan antisipasi menghadapi perubahan kehidupan yang dapat terjadi.

“Resesi tidak selalu menjadi ancaman, bisa saja menjadi kesempatan. Asalkan, masyarakat bisa mempersiapkan diri dan melakukan kontrol finansial, yaitu menurunkan gaya hidup, tidak boros, tetapi jangan menahan uang juga, karena ekonomi harus tetap bergerak. Pendapatan yang kalian miliki sebaiknya diatur dengan bijaksana agar kebutuhan saat ini tetap dapat terpenuhi, sekaligus mempersiapkan kebutuhan di masa mendatang,” ujar Kelly.

Kelly menyarankan masyarakat untuk tidak mengandalkan gaji bulanan. Sebagai gantinya, bisa dengan berbisnis berbasis hobi yang dijalankan secara online sehingga, bila terjadi penurunan pendapatan, keluarga masih dapat bertahan hidup.

Selain itu, segmen market menengah bawah atau menengah atas bisa menjadi target pelanggan. Menurut Kelly, segmen ini akan cenderung menurunkan bujet dan lebih selektif dalam memenuhi kebutuhan hidup. 

Selama harga terjangkau dan kualitasnya mumpuni, maka terbuka peluang mendapatkan pelanggan. Ia juga menyarankan masyarakat untuk meningkatkan investasi. 

Misalnya, jika memiliki cash tambahan, masyarakat dapat membeli aset likuid yang harganya sedang diskon. Saat resesi, banyak aset yang harganya turun yang nantinya berpotensi untuk meningkat di masa depan.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS