Assemblr: Gali Potensi Immersive Technology melalui Immersive Content

marketeers article
immersive technology | sumber: Jakarta Marketing Week 2023, Marketeers

Immersive technology merupakan penggabungan dari augmented reality, virtual reality, dan dunia seperti Metaverse. Assemblr merupakan salah satu tech startup yang mengembangkan immersive technology sebagai sebuah peluang bisnis yang menguntungkan. 

Dalam acara The 11th Annual Jakarta Marketing Week 2023 di Grand Atrium Kota Kasablanka pada Jumat, 16 Juni 2023 lalu, CEO & Founder Assemblr menjadi salah satu narasumber yang turut diundang pada sesi Next Tech, Next Business. 

Hasbi Asyadiq, CEO & Founder Assemblr menyebutkan immersive technology merupakan penggabungan antara digital content dengan dunia nyata. 

“Bahasan-bahasan seperti AI, immersive technology, AR, VR, Metaverse, ini ke depannya akan semakin hot. Karena, seiring dengan perkembangan teknologi, kita otomatis ga akan bisa ngebendung advancement-nya,” kata Hasbi di JakMW2023.

Lalu, bagaimana cara kerja dari Augmented Reality (AR)? Pada umumnya, AR bekerja dengan cara mem-project digital object di dunia nyata. 

“AR itu menggunakan dunia nyata sebagai playground-nya,” ujar Hasbi.

Pada saat ini, konten yang tersebar di media sosial didominasi yang berbentuk video dan gambar. Namun, pada masa depan pada saat teknologi makin maju, seperti jaringan 5G sudah bisa diakses di mana-mana, device menjadi kian canggih, maka konten yang akan diakses adalah immersive content. 

BACA JUGA: Deddy Corbuzier: Media Sosial jadi Tantangan Utama dalam Bela Negara

Hasbi menjelaskan bagaimana teknologi imersif dapat membuat konten menjadi accessible dengan mudah, baik dalam mengakses maupun membuat konten menjadi immersive. 

That’s why kita bikin tools namanya Assemblr Studio di mana orang-orang bisa bikin immersive content sendiri semudah drag and drop dalam bentuk tiga dimensi dan augmented reality, dan hanya menggunakan website aja, web-based,” ucapnya.

Dalam penerapannya, teknologi imersif dapat membantu para pelaku bisnis untuk memvisualisasikan informasi dalam bentuk 3D dan AR, baik bagi product visualization, marketing, dan campaign. 

Selain potensi penerapannya dalam dunia bisnis, immersive technology juga tentu memiliki beberapa tantangan, mulai dari kesadaran masyarakat yang masih rendah terkait immersive technology, keterbatasan infrastruktur internet, membutuhkan sumber daya multidisiplin, biaya yang masih tinggi dan aksesibilitas yang terbatas, serta device yang belum mendukung. 

Of course, terus educate everyone bahwa immersive tech is coming, lalu ini bakal driven juga sama tech giant, dan tentunya proses yang ada harus di-simplify,” ucap Hasbi. 

Hasbi juga menyebutkan berbagai industri dapat menerapkan immersive technology ini dalam mengemas informasi menjadi sesuatu yang menarik, seperti pendidikan, industri kreatif, hingga manufaktur. Dari immersive content, pelaku bisnis dapat menambah value pada produk, meningkatkan customer experiences, visualisasi yang kaya akan kreativitas, dan bahkan membuka peluang bisnis baru. 

BACA JUGA: Inovasi Teknologi, Transformasi Menuju Bisnis yang Lebih Maju

“Makin ke sini, makin banyak bisnis yang meng-adopt immersive technology due to visual elements yang disajikan oleh immersive content ini, karena kita manusia itu seneng banget ngeliat sesuatu yang animated, visual, interaktif, dua arah, yang nggak bisa di-achieve oleh konten kayak teks, gambar dan video,” ucap Hasbi.

Dengan begitu, immersive technology melalui immersive content adalah sebuah masa depan yang perlu didukung oleh ekosistem, kolaborasi, aksesibilitas, dan keterjangkauan. 

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS