Bangun Keunggulan Bersaing Visioner, Belajar dari WIR Group

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
02 Agustus 2022
marketeers article
Metaverse. Sumber ilustrasi: www.123rf.com
Memiliki keunggulan bersaing atau competitive advantage itu sangat penting. Tanpa ini, perusahaan kemungkinan akan kewalahan saat menghadapi persaingan dan akan tenggelam di pasar lantaran tak ada yang menonjol. Apalagi di era digital seperti sekarang ini.
Menurut Investopedia, keunggulan bersaing mengacu pada faktor-faktor yang memungkinkan perusahaan menghasilkan barang atau jasa yang lebih baik atau lebih murah dari pesaingnya. Keunggulan ini sering dikaitkan dengan aneka faktor, seperti struktur biaya, merek, kualitas produk, jaringan distribusi, kekayaan intelektual, hingga layanan pelanggan.
Michael Porter, pakar manajemen dan profesor dari Harvard Business School, menyederhanakan cara perusahaan atau organisasi mencapai keunggulan bersaing dari para pesaingnya dalam dua hal, yakni keunggulan biaya (cost advantage) dan keunggulan diferensiasi (differentiation advantage). Keunggulan pertama mengacu pada bisnis yang menyediakan produk dan layanan yang sama dengan pesaingnya dengan biaya yang lebih murah. Keunggulan kedua merujuk pada produk dan layanan yang lebih baik dari pesaingnya.
Perusahaan-perusahaan global, seperti Google, Apple, Facebook, Microsoft, Amazon, dan sebagainya mampu menguasai pasar karena masing-masing memiliki keunggulan bersaingnya. Keunggulan bersaing yang umumnya selaras dengan core business tersebut dikembangkan dan diperkuat dari waktu ke waktu. Di Indonesia pun demikian, banyak perusahaan unggul dan sukses di pasar karena memiliki keunggulan bersaing dan secara kontinu mengembangkannya. Keunggulan ini menjadi salah satu modal dasar sebuah bisnis mampu eksis dan berkelanjutan di masa depan.
Visioner Seperti WIR Group
Sekarang ini, salah satu perusahaan asli Indonesia yang pamornya kuat terkait dengan dunia teknologi kekinian adalah WIR Group. Perbincangan soal WIR Group tak bisa dilepaskan dari metaverse. Sebaliknya, bicara soal metaverse di Indonesia tak bisa dilepaskan dari WIR Group.
Mengapa WIR Group sangat menonjol dalam diskursus tentang semesta baru bernama metaverse ini? Karena WIR Group memiliki teknologi yang menjadi penopang utama dari metaverse tersebut, yakni augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan artificial intelligence (AI). Ketiganya adalah core business WIR Group dan menjadi keunggulan bersaing yang dikembangkan oleh WIR Group sejak tahun 2009 – jauh sebelum terminologi metaverse muncul dan sepopuler sekarang.
Keunggulan bersaing ini semakin kuat dan menonjol ketika bertemu dengan momentum hadirnya metaverse. Pertemuan tersebut tentu bukan kebetulan, melainkan karena para pendirinya sangat visioner alias mampu melihat masa depan teknologi akan seperti apa. Artinya, para pendiri mampu membangun fondasi keunggulan bersaing untuk masa depan sehingga ketika metaverse tiba, perusahaan sudah siap.
“Teknologi kami memang berkisar pada computer vision. Kami berempat memutuskan untuk membuat sesuatu yang berbeda. Teknologi yang kami kembangkan adalah VR, AR, dan AI yang sekarang populer dengan metaverse. Saat itu, teknologi ini terbilang jarang di kawasan Asia Tenggara, apalagi Indonesia,” kata Michael Budi, CEO & Co- Founder WIR Group kepada Marketeers.
Pada awal berdiri, para pendiri cukup kewalahan memasarkan teknologi ini. Selain karena belum sepopuler sekarang, masyarakat Indonesia juga belum pada teknologi maju tersebut. Sebaliknya, pamor WIR Group justru lebih dulu cemerlang di pasar mancanegara. Baru setelah hype metaverse menguat, WIR Group dicari oleh banyak perusahaan dan organisasi di Indonesia untuk menyiapkan diri masuk ke semesta baru itu.
“Sejak awal, kami memang bermimpi menjadi perusahaan Indonesia yang bisa mendunia. Seperti nama WIR yang merupakan singkatan We Indonesians Rock, Rise, and Rule. Setiap kami ke luar negeri, kami membawa nama Indonesia. Bersyukur kami sudah menggarap lebih dari seribu proyek dan melayani lebih dari 20 negara,” ungkap Michael.
Di pasar global, WIR Group pertama kali digandeng oleh perusahaan penerbitan Spanyol untuk kepentingan edukasi melalui buku-buku pelajaran berteknologi AR yang lebih hidup dan interaktif. WIR juga sudah berekspansi di Amerika Serikat, Singapura, Thailand, Jerman, Myanmar, Nigeria, dan sebagainya.
Salah satu yang cukup fenomenal adalah aplikasi Next for Nigeria yang dipakai oleh Presiden Nigeria Muhammadu Buhari dan wakilnya Yemi Osinbajo untuk kepentingan kampanye pemilu presiden tahun 2015. Aplikasi ini cukup berperan dalam kemenangan Buhari dan Osinbajo. Produk besutan AR&Co, unit teknologi dan solusi kreatif dari WIR Group, juga berhasil menyabet penghargaan Best Augmented Reality Campaign oleh Augmented World Expo 2015 di Silicon Valley, Amerika Serikat.
WIR Group juga masuk dalam daftar Metaverse Companies to Watch in 2022 versi majalah bisnis internasional Forbes GE, bersanding dengan raksasa teknologi Apple, Microsoft, Facebook/Meta, Snap, Inc., dan Niantic. Pengakuan tersebut semakin mempopulerkan perusahaan asal Indonesia yang mewakili Asia Tenggara ini.
Dari WIR Group, para pelaku bisnis bisa belajar betapa pentingnya menentukan dan memiliki keunggulan bersaing. Tak sebatas memiliki, keunggulan bersaing tersebut dibangun berdasarkan cara pandang visioner dengan membaca pasar masa depan. Dengan demikian, ketika masa depan tiba, perusahaan sudah siap dan semakin berjaya dalam menggarap pasar. Bahkan, dicari-cari banyak perusahaan dan organisasi seperti WIR Group sekarang ini. Marketeers memberi predikat para pendiri WIR Group dalam edisi Juli lalu sebagai Masters of the Metaverse.

Related