Didesak Regulasi, TikTok Siapkan Algoritma untuk Pengguna di AS

marketeers article
Ilustrasi aplikasi TIkTok. (FOTO: 123RF)

TikTok dilaporkan telah bekerja sejak tahun lalu untuk menciptakan versi algoritma rekomendasi khusus untuk pengguna di Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut merupakan persiapan perusahaan guna menghadapi tuntutan Pemerintah AS.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (31/5/2024), algoritma itu beroperasi secara independen lewat aplikasi Douyin buatan ByteDance. Penyelesaian proyek ini bisa memakan waktu lebih dari satu tahun sebagai bagian dari rencana untuk menunjukkan kepada para pembuat undang-undang bahwa bisnis TikTok di AS merupakan bisnis yang independen dari pemiliknya di Beijing.

BACA JUGA: Gandeng TikTok, Etawalin Bidik Pertumbuhan Penjualan dan Pasar Baru

Laporan tersebut menyebutkan bahwa para eksekutif TikTok telah membahas proyek ini dalam pertemuan internal dan melalui sistem pesan internal perusahaan. Tapi, perusahaan telah menanggapi laporan tersebut dan menyebut berita Reuters yang diterbitkan hari ini menyesatkan dan tidak akurat secara faktual.

Dalam email kepada The Verge, Juru Bicara TikTok, Michael Hughes mengatakan bahwa itu sepenuhnya salah. TikTok telah berusaha meyakinkan para pembuat undang-undang tentang independensi operasionalnya di AS sebelumnya.

BACA JUGA: 3 Inspirasi Strategi Meningkatkan Penjualan UMKM via Tokopedia dan TikTok

Perusahaan saat ini sedang menggugat pemerintah AS atas undang-undang yang memberi perusahaan induknya waktu hingga 19 Januari 2025 untuk menyerahkan kendali aplikasi kepada pihak lain atau menghadapi larangan.

Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya oleh Reuters, tidak ada rencana untuk memisahkan perusahaan. Namun, setelah ada kode dipisahkan, ini bisa menjadi dasar untuk divestasi aset di AS.

Di AS, platform media sosial ini memang perlu menerapkan taktik tersendiri. Mengingat, negara tersebut merupakan markas bagi sejumlah perusahaan teknologi seperti Google dan Meta yang juga memiliki kepentingan untuk bisa menjaga penetrasi dalam industri media sosial.

Editor: Eric Iskandarsjah

Related