Dirut Bukalapak Mengundurkan Diri, Kenapa?

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
29 Desember 2021
marketeers article
Bukalapak Online Shopping dev app on Smartphone screen. Bukalapak is a freeware web browser developed by PT Bukalapak.com. BEKASI, WEST JAVA, INDONESIA. DECEMBER 4, 2020
Direktur Utama PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) Rachmat Kaimuddin resmi mengundurkan diri dari perusahaan yang bergerak di sektor e-commerce ini. Adapun surat pengunduran diri resmi diterima perseroan pada Selasa, 28 Desember 2021 dan telah berlaku efektif.
Dalam keterangan resmi yang dipublikasikan oleh perseroan, Rachmat memutuskan mundur dengan alasan akan bergabung bersama pemerintah dan bekerja pada institusi negara. Kendati demikian, tidak  menyebutkan jabatan apa yang bakal diterima Rachmat saat menjadi abdi negara.
Sementara itu, Vice President of Corporate Secretary Bukalapak Perdana Arning Saputro mengatakan, posisi direktur nantinya akan dijabat oleh Teddy Oetomo, Natalia Firmansyah, dan Willix Halim. Namun, untuk sementara waktu, Rachmat masih menduduki jabatan direktur utama guna membantu proses transisi kepemimpinan di internal perusahaan.
“Segenap dewan komisaris dan manajemen Bukalapak menyatakan penghargaan tertinggi serta apresiasi atas kontribusi Rachmat selama dua tahun ini. Berdasarkan informasi dari surat pengunduran diri, Rachmat berencana akan melakukan pengabdian negara dengan bekerja untuk pemerintah,” ujar Perdana melalui keterangan resmi Bukalapak, Rabu (29/12/2021).
Selama bekerja di Bukalapak, Rachmat mencatatkan prestasi yang begitu gemilang. Salah satunya dengan membawa perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi perusahaan teknologi pertama yang menawarkan saham kepada publik. Tak hanya itu, dalam laporan keuangan pada kuartal III tahun 2021, perseroan juga mencatatakan torehan yang gemilang.
Adapun total processing value (TPV) atau total transaksi yang benar-benar terjadi sebesar 45% pada kuartal III tahun 2021. Capaian ini sangat sangat gemilang usai marketplace ini melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) beberapa waktu yang lalu. Secara keseluruhan, dalam sembilan bulan terjadi pertumbuhan sebesar 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Dalam laporan keuangan yang diterima Marketeers, nilai yang didapatkan dari pertumbuhan transaksi di kuartal III yakni Rp 31,2 triliun. Sedangkan dalam periode Januari hingga September, tercatat nilai transaksinya sebesar Rp 87,9 triliun.
“Pertumbuhan TPV didukung oleh peningkatan jumlah transaksi sebesar 25% dan kenaikan sebesar 21% pada average transaction value (ATV) sepanjang sembilan bulan pertama di 2020 sampai dengan sembilan bulan pertama 2021. Sebanyak 73% TPV Perseroan berasal dari luar daerah tier 1 di Indonesia, yang mana penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi warung serta toko ritel tradisional terus menunjukan pertumbuhan yang kuat,” tulis keterangan resmi Bukalapak, Rabu (1/12/2021).
Peningkatan transaksi ditopang oleh mitra Bukalapak yang merupakan mesin utama penggerak bisnis perseroan. TPV mitra pada kuartal III dan sembilan bulan pertama masing-masing bertambah 129% menjadi Rp 16 triliun dan 179% menjadi Rp 40 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Kontribusi Mitra terhadap TPV Perseroan meningkat dari 33% pada 3Q20 menjadi 51% pada 3Q21.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related