Gelang Harapan, Gerakan Sosial Peduli Kanker

marketeers article
Sumber: 123RF

Menjadi sociopreneur bukanlah hal yang mudah. Sebab, bisnis yang dijalankan tidak hanya mementingkan keuntungan atau laba saja, namun membawa perubahan bagi masyarakat atau lingkungan sekitar. Inilah yang dilakukan oleh Gelang Harapan.

Gelang Harapan didirikan oleh Amanda Soekasah, Janna Soekasah-Joesoef, dan Wulan Guritno pada tahun 2014 dan merupakan gerakan sosial yang melakukan aksi solidaritas peduli kanker. Hingga saat ini, lembaga ini sudah merambah isu-isu selain kanker.

Sebagai sebuah gerakan, Gelang Harapan menyadari bahwa untuk terus dapat melakukan aksi solidaritas, tidak mungkin hanya mengandalkan donasi ataupun dukungan dari masyarakat dan berbagai pihak. Maka dari itu, gerakan ini menjual berbagai produk. Hasil dari penjualan digunakan untuk membekali berbagai aksi solidaritas dilakukan.

Janna Soekasah-Joesoef, Ketua Yayasan Dunia Kasih Harapan (Gelang Harapan) menjelaskan, di setiap aksi solidaritas, gerakan ini memiliki konsep CareEntertainment yang memang menjadi ciri khas merek tersebut. Konsep ini merupakan gabungan antara kegiatan amal yang diselingi oleh acara yang meriah dan menyenangkan.

“Selain menjual produk-produk yang menarik dengan kemasan apik melalui media sosial, kami kerap mengadakan acara yang menghibur. Menurut kami, strategi ini sangat efektif dan dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat. Sehingga, berbanding lurus dengan dampak positif yang dihasilkan,” ujar Janna.

Gelang Harapan tidak memiliki segmen pasar yang dituju. Sebab, aktivitas mereka berlandaskan aksi solidaritas yang inklusif dan terbuka untuk siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi. Namun demikian, Janna mengatakan saat ini, lembaga ini sedang fokus untuk dapat diterima di kalangan generasi Milenial dan generasi Z.

“Kedua generasi tersebut merupakan generasi penerus. Ini merupakan langkah kami untuk tetap relevan pada tahun-tahun mendatang. Selain itu, kami juga ingin menanamkan nilai kesadaran sosial dan solidaritas untuk dapat tumbuh sejak usia dini. Langkah tersebut kami lakukan melalui program Future Warrior of HOPE,” ucap  Janna.

Saat awal dibentuk, lembaga ini dapat menjual hingga 1.000 gelang setiap bulannya. Janna mengungkap, hal tersebut berlangsung hingga kurang lebih 2-3 tahun pertama. Namun demikian, jumlah penjualan mulai menurun, terlebih di masa pandemi.

Untuk penjualan, Gelang Harapan mengandalkan dua kanal offline dan online. Produk-produk dari Gelang Harapan dapat ditemui di berbagai tempat. Di online, merek ini dapat ditemui di marketplace, seperti Tokopedia dan Shopee.

“Menurut kami, baik offline maupun online memiliki pasar masing-masing. Akan tetapi, saat ini kami sedang fokus pada penjualan online yang akhirnya menjadi salah satu kanal yang penting bagi keberlangsungan gerakan Gelang Harapan,” tuturnya.

Untuk strategi pemasaran, Janna mengungkapkan tidak ada hal khusus yang dijalankan oleh Gelang Harapan. Hanya saja, lembaga ini berupaya untuk tetap relevan dengan zaman dan menjalankan berbagai pemasaran digital.

“Membawa konsep CareEntertainment yang memang merupakan ciri khas kami dan menjadi salah strategi pemasaran kami. Dengan ini, kami bisa menyampaikan pesan dengan cara-cara fun dan relevan,” kata Janna.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS