Influencer Marketing ala UNIQLO, Manfaatkan Micro dan Nano

marketeers article
Evy Christina, Bigger Influencer Bigger Impact Session TFB 2024. Foto: Marketeers

Influencer marketing telah menjadi strategi pemasaran yang sangat efektif dalam era digital. Salah satu contoh sukses penerapan strategi ini adalah yang dilakukan oleh UNIQLO, merek pakaian global. 

Dalam beberapa tahun terakhir, merek ini telah mengadopsi pendekatan unik dengan memanfaatkan influencer marketing untuk meningkatkan awareness serta penjualan produknya. Evy Christina Setiawan, Senior Marketing Manager UNIQLO Indonesia membagikan cerita tentang salah satu produk UNIQLO yang viral secara global, yakni mini shoulder bag. 

Tas ini menjadi viral bukan karena promosi oleh selebriti terkenal, melainkan oleh seorang nano influencer bernama Caitlin Phillmore. Ia mengunggah video di TikTok pada tahun 2022, memperlihatkan mini shoulder bag tersebut yang dibelinya.

“Video tersebut mendapatkan 1 juta penayangan organik di TikTok dan lebih dari 50.000 likes. Dampaknya sangat besar, hingga tas tersebut terjual habis di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Bahkan, tas ini dinobatkan sebagai the hottest item di tahun 2023 oleh Vogue dan termasuk dalam daftar holiday 100 items oleh Googlem,” kataEvy dalam acara Tech For Business 2024, Selasa (4/6).

BACA JUGA: Nutrifood: Traffic Bukanlah Fokus Utama dalam Digital Marketing

Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh dari nano influencer bisa sangat besar, meskipun jumlah pengikutnya sedikit. Dalam influencer marketing, terdapat beberapa kategori berdasarkan jumlah pengikut, yakni mega (lebih dari 1 juta), macro (di bawah 1 juta), micro (10.000 hingga 100.000), dan nano (di bawah 10.000). UNIQLO sendiri memiliki kategori tambahan, yaitu mid influencers dengan jumlah pengikut antara 100.000 hingga 500.000.

Pemilihan kategori influencer ini tergantung pada tujuan kampanye. Jika tujuan utamanya adalah awareness dengan target yang lebih luas dan memiliki anggaran besar, maka mega atau macro influencer bisa menjadi pilihan.

Namun, jika produk lebih ditargetkan atau memiliki anggaran terbatas, micro dan nano influencer bisa lebih efektif karena memiliki audiens yang lebih tersegmentasi dan loyal, serta biaya yang lebih rendah.

“Kami telah menggunakan berbagai kombinasi influencer dalam berbagai kampanyenya, seperti pada kampanye Hari Raya, di mana kami bekerja sama dengan selebriti untuk meningkatkan awareness dan brand presence, sementara 150 micro influencer diundang ke toko untuk mempromosikan produk secara lebih spesifik dan mendorong penjualan. Hasilnya, mereka berhasil mencapai 132% dari target reach KPI,” ujar Evy.

BACA JUGA: Rahasia Sukses Penjualan Uniqlo Indonesia: Fokus pada Pelanggan

Contoh lainnya adalah kampanye perayaan sepuluh tahun UNIQLO Indonesia, yang mana mereka menggabungkan out-of-home (OOH) placement dengan micro dan nano influencer di platform X. Kampanye ini berhasil menghasilkan 14.400 tweet organik dan menjadi trending topic

Hal ini menunjukkan bahwa micro dan nano influencer efektif dalam membangun percakapan organik dan meningkatkan engagement. Tidak hanya itu, UNIQLO juga menggunakan micro dan nano influencer untuk memvalidasi tren, seperti pada kampanye Flannel. 

Melalui kolaborasi dengan 600 micro dan nano influencer, merek ini berhasil mencapai 2,5 juta reach dan mencapai target penjualan 300%.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related