Technology

Ancaman Kejahatan Siber di Tengah Maraknya Konferensi Video

SUMBER: 123RF

Periode  kerja dari rumah dalam rangka meredam penyebaran wabah COVID-19 membuat aktivitas daring menonjol dan bahkan mendominasi aktivitas di rumah, dari aktivitas kerja, mengerjakan tugas sekolah, ibadah, hingga sekadar berkomunikasi dengan kerabat untuk berbagi kabar. Semua dilakukan secara daring.

Salah satu kegiatan yang populer di masa pandemi ini adalah konferensi daring atau webinar. Namun, di tengah melonjaknya kebutuhan akan konektivitas daring, ada ancaman siber yang senantiasa membayangi. Paling tidak, ini yang diingatkan oleh salah satu perusahaan piranti lunak Kaspersky. Menurutnya, kejahatan siber terus mengintai dalam bentuk peretasan data pribadi, pencurian uang digital, dan sebagainya.

Para peneliti di Kaspersky sebelumnya sudah melihat contoh malware virus korona atau COVID-19 yang mencoba menyembunyikan file berbahaya dalam dokumen terkait dengan penyakit atau virus ini. Namun, peluang ancaman siber lainnya tidak hanya sampai di situ.

Di tengah banyak negara yang melakukan karantina beragam, perusahaan telah menemukan cara untuk menggunakan teknologi demi menjaga kelangsungan bisnis mereka. Salah satunya dengan menggelar rapat-rapat bisnis melalui konferensi video. “Pelaku kejahatan siber mengetahui tren ini dan mereka bisa memanfaatkan, mengeksploitasi dan menyusup melalui entri atau pintu masuk yang berbeda, seperti Wi-Fi yang tidak aman, jaringan tanpa enkripsi, penggunaan kata sandi yang lemah, dan izin aplikasi yang buruk atau diabaikan,” ujar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara (SEA) di Kaspersky seperti dikutip dari siaran pers Kaspersky.

Yeo menambahkan, perusahaan di seluruh dunia sekarang menyadari pentingnya mengamankan aplikasi dan situs web mereka, terutama dengan perubahan di lingkungan TI karena pandemi yang sedang terjadi. Namun yang terjadi, masih banyak organisasi masih belum siap menghadapi para karyawannya bekerja dari rumah dan menyebabkan mereka harus menghadapi tantangannya secara real time. “Sementara, organisasi lainnya menganggap ini adalah hal biasa dan menjadi waktu yang tepat untuk memeriksa ulang keamanan pada sistem akses jarak jauh perusahaannya,” tambahnya.

Departemen TI secara global menghadapi tantangan jaringan terbesar mereka saat ini. Terlihat dari jumlah besar orang yang terkoneksi secara jarak jauh dengan jaringan perusahaan secara tidak terduga, yang sekaligus menjadi tantangan tambahan serta evaluasi pada infrastruktur keamanan dan TI yang sudah genting sebelumnya.

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat diambil atau dilakukan oleh para pihak untuk melindungi jaringan mereka dan mengurangi risiko siber terkait konektivitas jarak jauh. Para ahli Kaspersky menyarankan beberapa hal. Pertama, menyediakan VPN bagi para staf untuk terhubung dengan aman ke jaringan perusahaan. Kedua, seluruh perangkat perusahaan – termasuk ponsel dan laptop – harus dilindungi dengan perangkat lunak keamanan yang sesuai, termasuk perangkat seluler. Ketiga, selalu terapkan pembaruan terbaru untuk sistem operasi dan aplikasi. Keempat, membatasi hak akses orang yang terhubung ke jaringan perusahaan. Kelima, memastikan staf menyadari bahaya menanggapi pesan yang tidak diminta atau dari sumber tidak dikenal.

Khusus untuk konferensi video, Kaspersky menyarankan perusahaan untuk melakukan beberapa hal. Pertama, melakukan penilaian fitur keamanan pada platform yang akan digunakan. Kedua, memastikan aplikasi diperbarui. Ketiga, membaca dan mengatur izin dengan saksama, baik selama konferensi maupun dalam penyimpanan rekaman konferensi. Keempat, menggunakan sistem masuk tunggal (SSO) sehingga tim TI dapat melacak dan memverifikasi kredensial setiap akun. Kelima, melakukan enkripsi dan amankan jaringan dengan ketat. Keenam,  membuat kebijakan konferensi video yang dapat menetapkan harapan serta batasan di antara semua pesertanya.

Sudahkah konferensi video dan webinar aman dari penjahat siber ini?

MARKETEERS X








To Top