Ketua APPBI: Pengelola Ritel Harus Bisa Merespon Segala Perubahan

profile photo reporter Dyandramitha Alessandrina
DyandramithaAlessandrina
29 September 2021
marketeers article
isometric interior of shopping mall. Flat 3d vector illustration.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pandemi COVID-19 membawa sejumlah perubahan baru bagi banyak  industri, termasuk industri ritel. Lantas, bagaimana industri ritel beradaptasi menghadapi kondisi ini?
Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia mengatakan bahwa pandemi tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk industri ritel beradaptasi. Sebetulnya, dalam kondisi apa pun, industri ritel, terutama pusat perbelanjaan itu adalah bagaimana merespon semua perubahan.
“Kita tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi, tapi pasti akan terjadi. Banyak pusat perbelanjaan yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Mulai dari tren belanja, kebiasaan masyarakat, gaya hidup, dan sebagainya. Intinya, adalah bagaimana pengelola merespon itu semua, karena kalau tidak bisa, itu yang jadi masalah,” kata Alphonzus dalam acara Marketeers Goes To Mall bertajuk New Retail, New Opportunities.
Alphonzus menambahkan jika dulu lokasi menjadi peran penting untuk membangun pusat perbelanjaan. Namun demikian, seiring berjalannya waktu dengan berbagai perubahan yang terjaid, lokasi strategis tidak lagi bisa menyelesaikan permasalahan.
“Perubahan itu selalu terjadi. Tanpa disadari, pusat perbelanjaan juga berubah. Dengan hal ini, secara komersial dan bisnis, walaupun berada di lokasi yang bagus tidak tentu strategis,” tutur Alphonzus.
Menurut Alphonzus, pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia bisa berubah. Mereka lebih jago dibandingkan negara lain, yang mana pusat perbelanjaan disana terintegrasi. Karena terintegrasi, fungsinya bukan menjadi shopping centre, melainkan hub koneksi. Jadi, mereka tidak perlu susah payah mendatangkan traffic.
“Di Indonesia belum ada pusat perbelanjaan yang terintegrasi. Jadi, pengelola harus berjuang untuk bisa mendatangkan traffic. Sebetulnya, pengelola di Indonesia lebih jago, karena mereka harus berpikir keras, harus punya strategi dan effort yang luar biasa untuk bisa mendatangkan traffic,” tambah Alphonzus.
Permasalahan yang dihadapi pusat perbelanjaan sebenarnya adalah konsep. Menurut Alphonzus, tidak bisa mengandalkan lokasi saja. Kalau konsepnya unik, punya diferensiasi, pasti akan selalu di cari-cari oleh masyarakat.
“Pusat perbelanjaan sekarang harus bisa tampil beda. Jangan andalin lokasi saja. konsep bisa macam-macam, simpel tidak apa-apa, yang penting unik, punya diferensiasi. Sia-sia kalau lokasi bagus tapi tidak ada konsepnya. Intinya, kemampuan untuk bisa merespon menjadi kunci utama kita untuk survive,” tutup Alphonzus.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related