Konferensi B20 Hasilkan Potensi Proyek Senilai US$ 11,5 Miliar

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
21 November 2022
marketeers article
Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sumber gambar: 123rf.

PT Pertamina (Persero) melaporkan Task Force Energy, Sustainability and Climate Business 20 (TF ESC-B20) atau Satuan Tugas Energi, Keberlanjutan, dan Perubahan Iklim dalam konferensi B20 mampu menghasilkan potensi proyek senilai US$ 11,5 miliar atau setara dengan Rp 180,5 triliun (kurs Rp 15.702 per US$). Kegiatan B20 Summit yang berlangsung pada 13-14 November 2022 di Bali mengemban misi untuk mempercepat penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di seluruh dunia.

Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina sekaligus Chairman TF ESC-B20 mengatakan konferensi tersebut digagas untuk memastikan transisi energi yang adil dan terjangkau. Selain itu, tujuan lain dari dibentuknya satuan tugas, yakni untuk meningkatkan keamanan energi dunia.

BACA JUGA: Pertamina Jamin Pasokan Energi di Puncak Perhelatan KTT G20

“Diskusi antara pemangku kepentingan dalam TF ESC-B20 memiliki tujuan untuk mencari implementasi paling realistis dari transisi energi yang berkelanjutan dengan konsep kemandirian energi,” kata Nicke melalui keterangannya, dikutip Senin (21/11/2022).

Menurutnya, pembahasan utama tersebut memunculkan pembicaraan mengenai kerja sama global lintas negara yang lebih dikembangkan baik di negara maju serta berkembang. TF ESC juga berperan sebagai katalisator dalam kerja sama global dengan capaian perjanjian sebanyak 38 kesepakatan dari lintas negara.

BACA JUGA: Kuartal III 2022, PGN Kantongi Laba Bersih Rp 4,54 Triliun

Sebanyak 11 negara setidaknya terlibat dalam proses business action dalam mewujudkan percepatan proyek rendah karbon. Tindakan implementasi lainnya adalah TF ESC sebagai ajang keselarasan bisnis secara global.

Sebanyak 12 peluang kerja sama lintas negara terwujud usai ajang B20 terselenggara. Dari peluang kerja sama tersebut sebanyak lima bisnis terjalin kesepakatan dalam ajang tersebut untuk penurunan proyek rendah karbon.

Aksi bisnis lainnya yang tercapai adalah dua kolaborasi investasi bisnis terjalin dalam konferensi B20. 

“Secara umum TF ESC B20 berfungsi sebagai jembatan bagi negara yang ingin mencapai kesepakatan bersama pada isu transisi energi secara global. Satuan tugas ESC B20 memberikan pemahaman kerja sama bagi negara yang tengah melalui masa transisi energi dengan negara yang memiliki sumber energi fosil melimpah, seperti Arab Saudi misalnya,” ujarnya.

Nicke menambahkan upaya nyata dari TF ESC atas menjembatani pemahaman transisi energi adalah adanya pengembangan teknologi Carbon Captures Utilization Storage (CCUS). Adapun teknologi tersebut merupakan teknologi yang bisa menangkap karbon dioksida yang telah terlepas ke atmosfer sehingga energi bersih diupayakan bisa tercapai dengan langkah ini.

Selanjutnya, fungsi dan visi kedua adalah TF ESC sebagai akselerator atau katalis untuk mewujudkan agenda-agenda global, misalnya net zero emission (NZE), transisi energi dan lainnya. Program netralitas karbon tahun 2060 menjadi agenda kerja dan proses berkelanjutan untuk transisi penggunaan energi dari energi fosil yang polutif ke energi bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan hasil dari pengembangan EBT.

“Menindaklanjuti langkah tujuan dari konferensi besar tersebut, PT Pertamina Group, Indonesia menjadi aktor utama penyelenggara perhelatan puncak Konferensi Tingkat  Tinggi Government 20 (KTT-G20), Task Force Energy, Sustainability and Climate Business 20 (TF ESC-B20) dan siap mengawal rekomendasi utama yang membahas intensif oleh 152 peserta dari 25  negara perwakilan,” tuturnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related