Kampanye Pemasaran Menggunakan 3D Printing Belum Populer di Indonesia

marketeers article

Selama ini, kita mengenal printer sebagai mesin pencetak pada sebuah kertas. Hasilnya pun hanya bersifat dua dimensi. Namun, rupanya industri printer terus berevolusi. Dari yang semula hanya menghasilkan produk berbentuk dua dimensi, menjadi tiga dimensi. Bahan baku yang digunakan pun tidak hanya lembaran kertas, melainkan juga material lain.

Namun, teknologi printer tiga dimensi atau bisa disebut 3D printing belum terlalu populer di Indonesia. Indonesia masih dalam tahap belajar dan mengenal produk ini. Padahal banyak hal yang bisa digali dari teknologi 3D printing ini. Mulai dari memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, hingga mendukung proses produksi dan aktivitas pemasaran.

“Indonesia saat ini masih menjadi pusat produksi, belum menjadi pusat pengembangan produk bila dibandingkan dengan Hong Kong dan Singapura. Banyak desain produk dari dua negara ini yang selanjutnya diproduksi masal di Indonesia,” kata Harry Liong, Founder SugaCube 3D Studio.

Memang, teknologi ini masih tergolong mahal, terutama bila menyangkut printer dan bahan bakunya. Sehingga, banyak perusahaan atau brand yang berpikir ulang mengonsumsi teknologi ini. Di sisi lain, permintaan yang masih kecil menjadi salah satu penyebab mengapa harga produk ini menjadi mahal.

Harga pembuatan model 3D berbentuk manusia bisa menghabiskan dana Rp 2,5 juta hingga Rp 19 juta yang hanya berukuran tinggi 10 cm hingga 36 cm. Ini untuk 3D printing berbahan baku sandstone berwarna. Sandstone sendiri adalah batuan sedimen yang terdiri dari mineral pasir atau kerikil. Bayangkan jika materi ini digunakan untuk memproduksi secara massal. Berapa uang yang harus dikeluarkan perusahaan. Ini baru berbicara material, belum termasuk printer.

Saat ini satu unit printer 3D bisa merogoh kocek mulai dari Rp 10 juta – Rp 150 juta untuk ukuran kecil. Printer dan bahan berkualitas untuk 3D printing pun masih harus diimpor, meski saat ini sudah ada material buatan lokal. Namun, bahan dasar yang ada di Indonesia masih berupa plastik PLA (PolyLactic Acid) atau sandstone berwarna yang kualitasnya belum mumpuni dibandingkan buatan Amerika. Begitu juga dengan printernya. “Kami pernah menemukan printer 3D buatan lokal di beberapa pameran, namun memang belum sebaik buatan Amerika,” lanjut Harry.

Meski begitu, permintaan akan produk atau jasa 3D printing sudah lebih banyak dibandingkan 3-4 tahun lalu. Para pemain di bisnis ini optimistis 3D printing dapat tumbuh lebih matang pada lima hingga sepuluh tahun mendatang. Mimpi para pemain pun sama, yakni 3D printer akan masuk ke rumah-rumah.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS