Menilik Relasi Intim Manusia dan Mesin dalam Marketing 5.0

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
19 Januari 2022
marketeers article
Pernah menonton film Her? Film fiksi ilmiah yang dirilis tahun 2013 ini mengisahkan seorang penulis bernama Theodore Twombly yang usai bercerai dengan istrinya mengalami kesepian. Untuk membunuh rasa sepinya itu, ia membeli sistem operasi yang dilengkapi dengan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai teman mengobrol. Ia namai sistem ini Samantha.
Rupanya Samantha mampu menjadi teman mengobrol yang asyik. Ia pernah menyarankan sang penulis agar mengencani seorang perempuan. Namun, masa pacarannya kandas. Relasi yang makin asyik dengan Samantha membuat Theodore akhirnya jatuh cinta padanya. Samantha dianggap sebagai sosok yang paling mengerti isi hatinya. Sayangnya, Samantha hanyalah sistem operasi komputer. Bukan manusia.
Dalam kehidupan keseharian, kita mungkin pernah mengalami masa seperti Theodore, yakni jatuh cinta pada perangkat pintar. Kita dibuat sebegitu intim dengan perangkat ini dan di titik ekstrem bahkan lebih intim ketimbang dengan orang-orang di sekitar kita. Kenapa? Karena perangkat pintar ini, disebabkan sistem algoritma yang disematkan, dianggap paling mengerti kebutuhan kita. Hampir semua kebutuhan yang kita cari ada di perangkat itu. Bahkan, ia mampu merekomendasikan hal-hal yang kita cari selama ini. Fenomena menarik? Tentu. Hal baru? Belum tentu.
Manusia dan Mesin
Teknologi-teknologi baru memang selalu memicu perbincangan seru dan segar. Sebut saja yang saat ini lagi santer dibahas di mana-mana, yakni metaverse. Belum lagi blockchain, augmented reality (AR), virtual reality (VR), artificial intelligence (AI), Web 3.0, robotik, dan sebagainya. Semua terdengar seksi.
Banyak dari kita berdecak kagum pada teknologi-teknologi ini. Bahkan, sebagian merasa dirinya kecil di depan kemegahan teknologi tersebut. Termasuk menganggap produk-produk teknologi itu sebagai entitas asing, berasal dari negeri antah berantah, dan sangat kompleks untuk dipahami. Padahal manusia (human) dan teknologi (technology) itu memiliki relasi intim mengingat teknologi itu sebenarnya merupakan perpanjangan kemampuan manusia itu sendiri
Saat mengagumi teknologi, manusia sejatinya sedang mengagumi dirinya sendiri. Apalagi, ini yang sering dilupakan, kehebatan sebuah teknologi adalah buah kecerdasan manusia. Jadi, ketika manusia mengalami keterasingan (alienasi) dengan dirinya gara-gara teknologi, jelas ini menunjukkan adanya masalah.
Marshall McLuhan, pemikir dan pakar komunikasi, pernah bilang bahwa teknologi itu sejatinya adalah perpanjangan manusia dan kebutuhannya. Teknologi hadir sebagai buah kemampuan manusia dan perpanjangan kelima indranya.
Inspirasi Manusia
Relasi erat antara manusia dan teknologi menjadi topik utama buku Marketing 5.0, Technology for Humanity (Wiley, 2021). Buku itu juga menekankan bahwa advanced technology yang menyokong kehidupan modern kita saat ini sebenarnya mengambil inspirasi dari kemampuan-kemampuan yang dimilki oleh manusia atau the human-inspired tech.
Teknologi artificial intelligence (AI), misalnya, terinspirasi dari kemampuan berpikir manusia (thinking). Kemampuan manusia berkomunikasi (communicating) dengan yang lain telah diadopsi ke dalam natural language processing (NLP). Dengan NLP, mesin bisa memahami pola pembicaraan kontekstual, baik secara lisan maupun tulisan, baik dalam bahasa fomal maupun informal.
Teknologi mixed reality dalam wujud AR dan VR dikembangkan atas inspirasi dari kemampuan manusia yang bisa bermimpi dan berimajinasi tanpa Batasan (imagining). Teknologi sensor diadopsi dari kemampuan manusia merasakan lingkungan sekitar dengan panca inderanya (sensing). Teknologi robotik terinspirasi dari kemampuan manusia yang bergerak dan beraktivitas. Sedangkan, internet of things (IoT) dan blockchain mengadopsi kemampuan dan kebutuhan manusia untuk saling terhubung satu sama lain.
Jadi, manusia dan teknologi maju ini memiliki relasi yang istimewa. Sebuah relasi yang tak dapat dipisahkan. Namun, ketika teknologi sebagai ciptaan manusia itu semakin cerdas dan mandiri, manusia harus pandai-pandai untuk berkolaborasi dengannya.
Di tulisan ini, saya hanya mau menekankan bahwa secanggih-canggihnya teknologi, itu hanyalah perpanjangan kemampuan dan kebutuhan manusia. Bila kita mengagumi, jatuh cinta, dan mengagung-agungkan teknologi, selayaknya kita akan lebih mengagumi, lebih jatuh cinta, dan lebih mengagung-agungkan penciptanya: manusia itu sendiri.
Dan, pada era sekarang, manusia tidak hanya sukses melahirkan produk-produk dan mesin-mesin berteknologi canggih, tetapi juga mampu membangun alam semesta baru di luar semesta raya dunia nyata, yakni metaverse. Metaverse, anyone?
 
 

Related