Pendanaan di ASEAN Turun 41%, Bisnis Starup Mulai Redup?

marketeers article
Ilustrasi fintech, sumber gambar: 123rf

Industri perusahaan rintisan (startup) di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sepanjang kuartal I tahun 2024 hanya mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 1 miliar atau setara Rp 16,08 triliun (kurs Rp 16.088 per US$). Pendanaan tersebut mengalami penurunan sebesar 41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Dilansir dari Nikkei Asia, berdasarkan laporan SE Asia Deal Review yang disusun oleh DealStreetAsia, situs berita keuangan yang berbasis di Singapura, capaian ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir. Hal ini mencerminkan perlambatan pendanaan yang berkepanjangan di wilayah ini sejak berakhirnya pandemi COVID-19, dengan sedikit tanda-tanda pemulihan.

BACA JUGA: Lanjutkan Inovasi, Apple Akuisisi Startup Kecerdasan Buatan Datakalab

“Setelah koreksi mendalam pada tahun 2023, terdapat ekspektasi tinggi terhadap kembalinya investasi modal ventura di ASEAN pada tahun ini. Beberapa indikator utama turun ke level terendah dalam lebih dari lima tahun akibat berlanjutnya penurunan investasi modal ventura, krisis likuiditas global, mengurangi valuasi, dan risiko untuk putaran pendanaan besar-besaran,” tulis laporan tersebut dilansir dari Nikkei Asia, Rabu (8/5/2024).

Secara keseluruhan, pada kuartal ini hanya ada 180 transaksi pendanaan yang dieksekusi. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 193 transaksi.

BACA JUGA: 10 Alasan Pentingnya Branding bagi Startup, Tak Perlu Diragukan Lagi!

Berdasarkan industrinya, e-commerce merupakan salah satu sektor yang mengalami penurunan paling tajam pada kuartal I tahun 2024. Penurunan ini mencapai titik terendah baru karena investor menghindari investasi padat modal.

Tercatat, sektor ini hanya menerima sepuluh kesepakatan pendanaan ekuitas dan hanya mengumpulkan US$ 18 juta, yang merupakan total triwulanan terendah setidaknya sejak tahun 2019. Ini terjadi lantaran dalam beberapa tahun terakhir bisnis e-commerce yang sudah ramai di kawasan ASEAN dan telah menyaksikan pendatang baru, seperti TikTok milik ByteDance asal Cina bahkan menekan pemain-pemain yang sudah mapan.

Pada bulan Januari, Lazada yang berbasis di Singapura, yang dimiliki oleh Alibaba Group Holding Cina, dilaporkan memecat hingga 30% karyawannya di seluruh wilayah karena persaingan yang semakin ketat. Dengan lemahnya pencatatan saham publik di seluruh dunia, startup dan investor hanya mempunyai sedikit cara untuk menjual saham mereka demi mendapatkan keuntungan.

Secara regional, hanya ada lima kesepakatan tahap akhir yang diselesaikan oleh startup di ASEAN dalam tiga bulan pertama tahun 2024, yang merupakan angka paling sedikit dalam lima tahun terakhir. Meskipun jumlah tiketnya lebih kecil, kesepakatan ekuitas terbesar pada kuartal pertama dilakukan oleh Asialink Finance, pemberi pinjaman untuk perusahaan kecil dan menengah yang berbasis di Filipina.

Startup ini berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 71,3 juta. Kemudian, perusahaan fintech Filipina lainnya, UNOBank, termasuk dalam sepuluh kesepakatan teratas, mengumpulkan US$ 32,1 juta untuk memperluas bisnis perbankan digitalnya.

Penggalangan dana besar lainnya pada kuartal I tahun 2024, termasuk startup mobilitas Singapura SingAuto dengan jumlah mencapai US$ 45 juta dan perusahaan ride-hailing Vietnam Be Group sebesar US$ 30,3 juta. Seperti diketahui Singapura dan Indonesia telah lama menjadi pasar startup terkemuka di kawasan ini.

Namun demikian, transaksi besar di Filipina yang keduanya didanai oleh perusahaan ekuitas swasta asal Malaysia, yaitu Creador telah membantu meningkatkan pangsa pendanaan ekuitas regional negara tersebut menjadi 14,2%. Raihan tersebut hanya sedikit lebih rendah dari Indonesia sebagai peringkat kedua sebesar 14,8%.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related