Pentingnya Jaga Kepercayaan Pelanggan, Lesson Learned dari UKM Bali

marketeers article
Ilustrasi (FOTO: 123RF)

Kepercayaan pelanggan menjadi salah satu kunci agar bisnis bisa berkembang. Terlebih bila bisnis menjajakan produk yang menyasar segmen anak.

Hal ini juga yang diyakini oleh Anak Agung Sri Anjani. Layaknya seorang ibu dan pernah berprofesi sebagai bidan, ia meyakini anak layak mendapat produk terbaik dalam masa tumbuh kembangnya.

Hal itulah yang membuat perempuan yang karib disapa Anjani ini merintis Kids Spoon pada akhir tahun 2017.

Kids Spoon merupakan bisnis yang dirintis atas keyakinan tersebut. Tidak lagi berprofesi sebagai bidan, Anjani berinisiatif untuk membuat makanan pendamping ASI untuk anaknya.

Inisiatif ini akhirnya menjadi ide bisnis untuk ibu baru tersebut. Berawal dari usaha rumahan pada tahun pertamanya, Kids Spoon memulai pemasaran dari mulut ke mulut.

Baik kerabat maupun teman Anjani yang mencoba makanan buatannya tertarik untuk memesan. Akhirnya, eksistensi bisnis ini pun semakin dikenal luas.

UKM asal Bali ini menjadi bisnis yang menyediakan katering makanan pendamping ASI untuk area Bali saja karena keterbatasan waktu pengiriman. Selain itu, bisnis tersebut menjual makanan pendamping ASI dalam bentuk frozen food dan makanan kering.

Produk makanan beku milik usahanya, yakni nugget dan bakso, dan untuk makanan kering, merek menyediakan kue kering dan kerupuk. Bisnis ini mampu mengirim produk frozen food hingga area pulau Jawa dan Lombok.

Sementara itu, untuk produk makanan kering sudah dikirimkan hingga Sulawesi dan Sumatera. Omzetnya kini mampu mencapai kisaran Rp 100 juta per bulan.

Produk yang dijual Kids Spoon memiliki harga mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 50.000. Bahan yang digunakan juga merupakan bahan-bahan natural tanpa pengawet, penyedap makanan, atau pewarna makanan kimia.

Semua produk Kids Spoon sudah tersertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Yang kami benar-benar jaga itu kualitasnya. Dengan ini, kepercayaan pelanggan juga terjaga. Apalagi untuk makanan anak-anak, orang tua sangat ketat. Untuk bahan baku, kemasan, kami menjamin semua bersih. Seperti saya membuatkan makanan untuk anak saya sendiri,” kata Anjani.

BACA JUGA: Riset INDEF: Shopee Jadi Platform E-Commerce Andalan UKM

Perjalanan Kids Spoon bukan tanpa suka dan duka. Membuat produk makanan untuk anak memiliki tantangan, khususnya dari segi bahan baku.

Mencari produsen yang mampu menyediakan bahan baku dengan kualitas yang memadai menjadi salah satu tantangan yang dihadapi di awal mendirikan bisnis ini.

Kemudian dari sistem produksi. Menurut Anjani pembuatan sistem produksi makanan pendamping ASI cukup sulit.

Menentukan takaran setiap bahan dan menjaga kualitas rasa agar tetap sama menjadi proses panjang yang harus dilalui bisnis saat itu. Belum lagi dari sistem antar dan pemesanan.

Merancang sistem pemesanan dan pengantaran yang tidak membebani konsumen menjadi hal yang cukup rumit menurut Anjani. Alhasil, bisnis akhirnya menggunakan jasa antar milik sendiri untuk mengantarkan pesanan kateringnya.

Mendapat sertifikasi BPOM pun diakui bukan hal yang mudah. Bahan baku yang digunakan harus melalui serangkaian uji lab dalam waktu yang tidak sebentar.

Sebelum sertifikasi BPOM terbit, Kids Spoon harus menggunakan sertifikat uji lab yang membuktikan bahwa setiap bahan yang digunakan higienis kepada konsumen.

Melalui serangkaian tantangan, bisnis ini pun berkembang. Kids Spoon berkembang melalui teknik pemasaran digital yang terus dioptimalkan.

Awal mulanya, dia memulai berdagang melalui WhatsApp dan berlanjut ke Facebook. Kini dia makin menggencarkan pemasaran juga melalui Instagram.

Hanya memiliki gerai di Bali tak membatasi penjualan yang dilakukannya. Dia meyakini penerapan omnichannel menjadi hal yang wajib dilakukan bisnis di era kini.

Penjualan disalurkan mulai dari e-commerce hingga layanan antar pesan makanan pada aplikasi ride hailing. Di Bali sendiri produk Kids Spoon rupanya tak hanya menarik konsumen Indonesia semata.

Menurut Anjani, tak sedikit wisman atau ekspatriat yang menjadi konsumen bisnisnya. Wisman yang datang berkunjung ke Bali tak sedikit yang membawa anaknya yang masih belia, namun tidak sempat untuk membawa makanan pendamping ASI. 

Alhasil, Kids Spoon kebanjiran pesanan yang kerap diantar ke hotel dan tempat para wisman yang membawa anak menginap. Tak cuma mengantar ke tempat menginap, para wisman juga kerap datang ke toko Kids Spoon langsung untuk memesan.

BACA JUGA: Dukung UKM, BMRI Terus Dorong Penyaluran KUR Ke Sektor Produksi

Anjani mengatakan komposisi bahan dan bumbu yang digunakan membuat produk Kids Spoon bisa diterima cita rasa lidah lokal, begitu pula lidah wisman. Penggunaan bumbu rempah yang tidak terlalu pekat, dengan bumbu dasar garam, lada, dan gula untuk lauk membuat katering merek sesuai dengan selera lidah wisman.

Menjelang genap usianya keenam, Kids Spoon berencana untuk mengeluarkan beberapa lini produk baru pada akhir dan awal tahun 2024. Namun, dia belum mau menjelaskan detail produk baru apa saja yang akan dirilis.

Tim Kids Spoon sendiri sudah berkembang pesat dibandingkan ketika pertama kali dirilis. Perusahaan ini awalnya digawangi oleh Anjani langsung dan adiknya. Kini, perusahaan sudah memiliki tim dengan 30 personel.

Meski memiliki popularitas yang sudah dikenal hingga luar Bali, Anjani mengaku belum mau untuk menambah gerai yang ada. Gerai yang berlokasi di Jl Pulau Moyo No.37B, Pedungan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali ini masih akan menjadi prioritas bisnisnya.

Alasannya, Anjani mengaku masih kewalahan untuk mengelola gerai yang ada saat ini. Menurutnya, pengembangan bisnis tak perlu terburu-buru.

Kids Spoon juga masih berfokus untuk menyempurnakan layanan yang ada saat ini. Salah satunya layanan katering yang baru berusia satu tahun.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS