Potensinya Besar, Performa Saham Emiten Agrikultur Naik 22,2% Selama Pandemi

profile photo reporter Tri Kurnia Yunianto
TriKurnia Yunianto
02 Desember 2021
marketeers article
augmented mixed virtual reality use for various fields like research analysis, safety,rescue, terrain scanning technology, monitoring soil hydration ,yield problem and send data to smart farmer
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkapkan, selama merebaknya pandemi COVID-19 dalam dua tahun terakhir membuat performa saham emiten agrikultur bergerak positif. Tercatat, hingga November 2021 kenaikan sahamnya hingga mencapai 22,2%,  tertinggi dibandingkan emiten di bidang lain.
Bhima menyebut, peluang tersebut diperkirakan bakal terus melonjak seiring dengan peningkatan kinerja industri pertanian dan perikanan. Bahkan, ia memperkirakan tren positif ini akan berlanjut hingga tahun 2023 lantaran  masih ada permintaan pasar yang cukup besar untuk produk-produk makanan.
“Sekarang, kalau kita gabungkan seluruh emiten pertanian yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) kita rangkum menjadi indeks agrikultur. Performa selama satu tahun ini hingga November 2021 itu 22,2% kenaikannya,” kata Bhima dalam dialog daring di Jakarta, Kamis (2/12/2021).
Menurutnya, jika dibandingkan dengan emiten lain atau saham lain secara umum, kenaikan saham pertanian masih unggul jauh. Sebut saja seperti indeks harga saham gabungan (IHSG) naiknya hanya 18,8%. Sementara itu, untuk surat utang negara imbal hasilnya hanya 6-7% per tahun.
Sehingga, lanjut Bhima, apabila ditunjukkan dengan beberapa indikator makro di sektor investasi pasar uang dan pasar modal masih belum terkalahkan. Dia mengatakan, momen ini menjadi waktu yang tepat bagi investor untuk membeli saham di bidang pertanian.
“Jadi, sekarang time to buy yang sudah punya time to hold dan by mode. Kita juga melihat pertanian ini bukan hanya temporary saja, tapi performanya bisa akan meningkat menuju level tertinggi mengalahkan harga di level tahun 2017,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bhima mendorong investor untuk tak menunda masuknya ke pasar modal. Sebab, apabila terlambat masuk, maka momentumnya bakal hilang. Hal ini lantaran terjadi kenaikan yang sangat signifikan jumlah investor pemula saat merebaknya pandemi.
Berdasarkan catatannya, jumlah investor pemula dalam dua tahun tembus 2 juta orang. Tak hanya itu, saham sektor pertanian pun tengah diperebutkan pemodal besar karena stigma-stigma pembagian deviden yang lambat ternyata tak terbukti.
“Institusi skala besar seperti asuransi, perbankan, dana pensiun kemudian pengelola manajer investasi sekarang justru melirik kapan nih ada perusahaan di seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir sampai ke pengolahan akhir yang ready untuk didanai sampai ke pasar modal. Jadi,sekarang investornya available jumlah emitennya di pasar modal yang masih terbatas, memang ada demand yang euforianya naik sementara supply emitennya sendiri yang masih terbatas,” pungkasnya.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related