Presiden Jokowi Meresmikan 2 PLTA Berkapasitas 614 MW di Sulawesi

marketeers article

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dalam kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah pada Jumat (25/2/2022). Kedua pembangkit listrik tersebut adalah PLTA Posos Energy di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah serta PLTA  Malea Energy di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Keberadaan dua PLTA tersebut menambah daya listrkk sebesar 614 MW, yakni 515 MW berasal dari Poso Energy serta keluaran 90 MW asal Malea Energy.

Keberadaan kedua PLTA baru di pulau Sulawesi ini, menurut Presiden Jokowi dalam sambutannya, menjadi bagian dari proses transisi menuju energi terbarukan. Perpindahan penggunaan energi dari sumber yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, dilakukan semua negara penjuru dunia demi mengurangi dampak emisi karbon dari bahan bakar fosil.

Indonesia memiliki potensi energi sebesar 418 gigawatt (GW) dari sejumlah sumber berkelanjutan seperti hydropower, geotermal, tenaga surya, angin, tidal, hingga panas permukaan air laut. Presiden Jokowi menambahkan pembangunan dua PLTA di Sulawesi sebagai upaya pemerintah untuk menggeser prioritas, dari pemakaian bahan bakar fosil menjadi energu baru terbarukan (EBT).

“Semuanya (EBT) ada di negara kita. Hanya bagaimana kita bisa menggeser dari yang (berbahan bakar) coal atau batu bara ini kepada energi hijau ini juga bukan pekerjaan yang mudah. Karena sudah terlanjur banyak sekali PLTU-PLTU kita,” kata Presiden Jokowi seperti dilansir dari laman resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Presiden Jokowi turut memberi apresiasi terhadap pelaku bisnis dan sektor usaha energi yang sudah membangun dua PLTA baru yakni Poso Energy dan Malea Energy di wilayah Sulawesi. Rencananya pihak Kalla Group yang telah membangun kedua PLTA tersebut, akan menyelesaikan unit pembangkit lainnya di kawasan Mamuju, Sulawesi Barat dan Meringin, Jambi.

Upaya penambahan pembangkit listrik berbasis EBT seperti PLTA di Sulawesi, menjadi upaya pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Indonesia memiliki target untuk mereduksi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030, begitu juga dengan sasaran nol emisi karbon pada tahun 2060 mendatang.

“Target-target seperti ini yang tidak mudah dikejar. Karena memang antara pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan listrik harus terus diseimbangkan. Jangan sampai ada kelebihan pasok dari PLN sehingga membebani dari PLN,” ujar sang Kepala Negara.

Untuk memudahkan pencapaian target tersebut, Presiden Jokowi juga mengingatkan semua pemegang kepentingan dalam sektor EBT untuk bekerja sama. Termasuk memberi kemudahan birokrasi seperti perizinan, sehingga berpengaruh pada proses mendapatkan pendanaan dari pihak konsorsium dan perbankan untuk mewujudkan proyek pembangkit listrik di setiap daerah.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Related

award
SPSAwArDS