Riset WorkMi Ungkap Faktor Utama Penyebab Stresnya Karyawan

profile photo reporter Muhammad Perkasa Al Hafiz
MuhammadPerkasa Al Hafiz
11 April 2022
marketeers article
Origami fortune teller on vacation at the beach concept for work life balance choices
Banyak karyawan yang meninggalkan pekerjaannya untuk alasan kesehatan mental, termasuk yang disebabkan oleh faktor tempat kerja seperti beban kerja terlalu banyak. Tantangan-tantangan kesehatan mental sekarang adalah norma baru diantara para karyawan di semua level organisasi. Melihat banyaknya stresor yang mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang, WorkMi meneliti dan menganalisis kondisi kesehatan mental lebih dari 2.000 klien WorkMi berdasarkan Kessler Psychological Distress Scale (K10).
Asesmen ini bertujuan menghasilkan ukuran global terhadap distress berdasarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai gejala kecemasan dan depresi yang telah dialami seseorang dalam periode empat minggu terakhir.
Analisis ini diungkapkan WorkMi dalam Laporan Kesehatan Mental WorkMi 2021: Tempat Kerja yang Ramah Manusia. Hasil temuan dari 2.643 klien WorkMi ini dinilai berdasarkan The Kessler Psychological Distress Scale (K10). Menariknya, mayoritas karyawan mengalami Low (32,65%) ke Medium Distress pada tahun 2021 (27,46%).
WorkMi juga menjelaskan banyak faktor yang berperan untuk melindungi kondisi kesehatan mental karyawan seperti ikatan yang kuat antaranggota organisasi, pengaturan kerja yang fleksibel, dan masih banyak lagi.
Namun, temuan WorkMi juga menunjukkan sebanyak 16,42% mengalami Distress Sangat Tinggi (Very High Distress) dan sebanyak 23,45% mengalami Distress Tinggi (High Distress). Setidaknya ada lima titik permasalahan terbesar yang dilaporkan karyawan, yakni keseimbangan kerja-hidup (13,24%), beban kerja yang tinggi (12,97%), deadline yang padat (12,78%), kurangnya dukungan (8,70%), dan ambiguitas peran (6,31%)
Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja telah menjadi faktor kritis pada kekuatan dan keberlanjutan dari performa bisnis perusahaan secara keseluruhan. WorkMi memahami bahwa produktivitas berkorelasi dengan sebuah ‘kehadiran fisik’ dari individu-individu di pekerjaan.
Namun ketika para karyawan hadir secara fisik dalam pekerjaannya, mereka mungkin mengalami penurunan produktivitas hingga di bawah kualitas kerja normal atau yang dikenal sebagai decreased presenteeism. Maka itu, WorkMi juga menganalisis produktivitas lebih dari 2.000 klien WorkMi dengan Stanford Presenteeism Scale.
Cerita positif dari temuan ini adalah mayoritas dari karyawan mampu untuk bekerja secara produktif (64%), sedangkan 46% sisanya menghadapi kesulitan untuk bekerja produktif.
Di sisi lain, WorkMi menemukan sebuah isu yang naik berdasarkan level produktivitas klien WorkMi. Sebanyak 64.57% dari mereka mengalami distress tinggi dan sangat tinggi, tetapi mereka masih mampu untuk bekerja secara produktif. WorkMi menyebut isu itu sebagai kemunculan akan kelompok-kelompok bom waktu.
Lewat risetnya ini, WorkMi ingin mengkomunikasikan bahwa level produktivitas telah menjadi sebuah faktor penting pada kekuatan dan keberlanjutan dari performa bisnis perusahaan secara keseluruhan. Sejauh ini, hal ini adalah salah satu kunci indikator yang terlihat dalam mengukur performa karyawan.

Menjaga Kesehatan Mental Karyawan

WorkMi juga memberikan beberapa rekomendasi bagi tempat kerja yang ingin terus mendukung kesehatan mental bagi karyawannya. Pertama, gunakan empati sebagai kekuatan utama di manajemen. Khususnya di kala pandemi yang masih berlanjut dan banyaknya orang-orang yang mengalami emosi negatif serta kehilangan. Ditambah lagi dengan adanya pembatasn ruang gerak dan pembatasan interaksi sosial karena adanya pengaturan work from home dan menyebabkan fenomena kesepian yang mulai meningkat.
Kedua, dukung orang-orang untuk dapat menjadi diri sendiri, menjadi mentor untuk orang lain, posisikan orang lain pada pusat percakapan Anda, dan sediakan sumber daya atau dukungan.
Ketiga, jadikan work-life balance sebagai siklus. Kerja berlebihan sudah menjadi salah satu masalah teratas tahun ini, menyebabkan para karyawan di seluruh dunia gagal dalam mencapai work-life balance.

Related