Rupiah Ditutup Tak Beranjak di Level Rp 15.637

marketeers article
Ilustrasi nilai tukar rupiah. (Sumber gambar: 123RF)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tak beranjak di level 15.637 per US$ pada perdagangan 23 Januari 2024. Kendati demikian, tren negatif akan terjadi pada perdagangan besok yang melemah di rentang Rp 15.610 hingga Rp 15.660 per US$.

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka menuturkan stagnasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh kemungkinan The Fed yang menurunkan suku bunga pada Maret 2024 makin tipis. Makin lamanya The Fed menahan tingkat suku bunga tinggi di AS pertanda buruk untuk mata uang negara-negara di Asia, termasuk Indonesia.

BACA JUGA: Pemakaian Rupiah dalam Transaksi dengan Negara Mitra Terus Didorong

“Dengan tingginya tingkat suku bunga di AS menyebabkan negara tersebut menarik modal dari aset-aset yang berisiko dan berimbal hasil tinggi,” kata Ibrahim melalui keterangannya, Selasa (23/1/2024).

Faktor lainnya memengaruhi stagnasi rupiah adalah kebijakan di Cina yang sedang mempertimbangkan paket dukungan sebesar 2 triliun yuan atau setara US$ 278 miliar untuk saham-saham negara tersebut. Tujuannya guna menjaga permintaan komoditas di Cina tetap kuat beberapa bulan mendatang.

BACA JUGA: Dampak Stabilisasi Rupiah dan Bayar Utang, Cadangan Devisa RI Turun

Selanjutnya, dari dalam negeri perkembangan cadangan devisa Indonesia pada 2024 akan terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan melambat dan harga komoditas yang diperkirakan melandai. Pertumbuhan cadangan devisa penting untuk menjaga ketahanan mata uang rupiah dalam mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro dan sistem keuangan di dalam negeri.

Kemudian, harga minyak mentah pada 2024 diperkirakan sedikit menurun sejalan dengan penurunan permintaan konsumsi industri dan energi. Sementara itu, untuk produksi batu bara kemungkinan melebihi permintaan, terutama dengan menurunnya permintaan dari Cina sebagai salah satu konsumen terbesar batu bara global.

Ekonomi Cina juga akan ikut memengaruhi harga logam dasar yang tentu juga harga nikel secara umum. Kondisi yang sama juga diproyeksikan di harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yang berpotensi akan mengalami penurunan pada 2024.

Kondisi ekonomi global dipengaruhi oleh beberapa kinerja negara-negara utama seperti AS, Uni Eropa dan juga Cina. Pertumbuhan ekonomi AS pada 2024 diproyeksikan sedikit terkoreksi. 

Meskipun demikian, probabilitas resesi di negara tersebut relatif lebih menurun jika dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related