Rupiah Melemah Tipis 4 Poin di Level Rp 15.784 per Dolar

marketeers article
Ilustrasi nilai tukar rupiah. (Sumber gambar: 123RF)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis sebesar 4 basis poin di level Rp 15.784 per US$ pada perdagangan 31 Januari 2024. Pelemahan diperkirakan masih terjadi hingga besok di rentang Rp 15.760 hingga Rp 15.840.

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka menuturkan pelemahan terjadi lataran The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama. Berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group saat ini hanya ada 42% investor yang percaya suku bunga akan turun pada Maret 2024.

BACA JUGA: Dampak Stabilisasi Rupiah dan Bayar Utang, Cadangan Devisa RI Turun

“Banyak analis memperkirakan penurunan suku bunga pertama The Fed akan bertujuan untuk mencegah kesenjangan yang terlalu lebar antara inflasi dan suku bunga The Fed. Hal ini akan memperketat kondisi keuangan lebih dari yang direncanakan oleh The Fed,” kata Ibrahim melalui keterangannya, Rabu (31/1/2024).

Dari dalam negeri, faktor yang memengaruhi pelemahan tipis nilai tukar rupiah adalah Dana Moneter Internasional (IMF) yang kembali mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2023 dan 2024, yakni tetap di angka 5%. Perkiraan ini diambil berdasarkan asumsi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.

BACA JUGA: Pemakaian Rupiah dalam Transaksi dengan Negara Mitra Terus Didorong

Sebelumnya, IMF telah meramalkan ekonomi Indonesia akan mampu tumbuh seperti yang pemerintahkan harapkan, meski proyeksi ekonomi global dari berbagai lembaga terus dipangkas. Di samping itu, pada Januari 2024 pula IMF merevisi ke atas prospek ekonomi global 2024, dari 2,9% menjadi 3,1%.

“Banyak negara yang terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dengan pertumbuhan yang semakin cepat di negara-negara besar di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sementara itu, negara mitra dagang Indonesia lainnya, yakni Cina, masih diproyeksikan tumbuh melambat, yang mana konsumsi dan investasi yang lebih lemah terus membebani aktivitas. Selanjutnya, di kawasan Uni Eropa, aktivitas diperkirakan sedikit pulih setelah tahun 2023 yang penuh tantangan, ketika harga energi yang tinggi dan kebijakan moneter yang ketat membatasi permintaan.

Adapun, proyeksi dari lembaga internasional ini sejalan dengan target pemerintah yang mematok target pada level yang tidak jauh berbeda. Pemerintah dan para ekonom juga optimistis capaian produk doemstik bruto (PDB) Indonesia pada 2023 akan mampu di atas 5%.

“Begitu pula dengan target pemerintah pada 2024 yang mematok target 5,2%,” tutur Ibrahim.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS