Saat Harbolnas, Pembeli Impulsif Meningkat Drastis

profile photo reporter Bianca Astira
BiancaAstira
24 Agustus 2021
marketeers article
Perkembangan teknologi digital telah banyak mempermudah beragam aktivitas masyarakat, termasuk dalam berbelanja. The Trade Desk bersama YouGov berhasil menemukan sekitar 52% konsumen Indonesia tertarik untuk mengenal merek baru selama festival belanja online berlangsung, atau yang kerap dikenal sebagai Hari Belanja Online (Harbolnas).  Temuan tersebut ialah hasil riset selama 5 hari yaitu pada 8 hingga 12 Juli tahun 2021 dengan lebih dari 2 ribu peserta yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Itu berarti, banyak konsumen Indonesia cenderung kurang setia dimana cenderung memiliki sifat brand switchers atau mudah beralih ke merek lain. Florencia Eka yang akrab dipanggil Flo selaku Country Manager The Trade Desk di Indonesia menegaskan rendahnya loyalitas konsumen pada fenomena ini dapat menjadi peluang bagi merek dan para pengiklan untuk mengembangkan strategi agar mampu menjangkau dan mempengaruhi pembelanja online.
“Jika mampu melihat sisi positif dan menangkap peluang dengan jeli, rendahnya loyalitas konsumen kepada merek ini dapat menjadi kesempatan untuk para merek dan pengiklan menanamkan kesadaran merek sebagai pertimbangan dan kesan konsumen untuk mencoba suatu produk pada merek tersebut” ujar Flo pada konferensi pers Kamis, (19/08/2021).
The Trade Desk mencatat bahwa konsumen Indonesia dalam berbelanja online terbagi menjadi dua karakter, yakni menjadi pembelanja yang terencana dan impulsif. Sekitar  64% merupakan pembelanja terencana pembelanja dan 14% mengaku sebagai sosok yang impulsif.
Namun menariknya, saat ada festival belanja online berlangsung sekitar 42% konsumen yang mengaku sebagai pembelanja yang terencana berubah menjadi impulsif dan membeli produk lebih banyak. Hal tersebut terlihat dari peningkatan porsi pembelanjaan impulsif hingga 2 kali lipat selama festival belanja online berlangsung.
Ia mengungkap melihat fenomena ini merek dan pengiklan perlu melakukan brand recall untuk mendorong pembelanja online agar mengingat kembali merek. Lalu, menjadi top of mind untuk membangun kesetiaan dengan menjadi sebuah merek pertama yang selalu berada di benak konsumen. Sementara kepada konsumen yang sudah ada, merek perlu melampaui pemasaran dengan membangun ekuitas agar semakin loyal.
“Intinya para pengiklan modern harus melakukan strategi yang fokus dan menyeluruh serta konsisten dalam meningkatkan kesadaran merek agar dapat mempertahankan konsumen,” ungkap Flo.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related