Strategi Gloskin Bersaing Di Tengah Menjamurnya Klinik Kecantikan

marketeers article

Tahun ini, klinik kecantikan Gloskin merayakan hari jadinya yang keempat. Dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak didirikan tahun 2012, klinik kecantikan yang menawarkan perawatan tanpa operasi tersebut telah memiliki 12 cabang. Dengan lebih dari 25 ribu pasien yang telah dilayani, Gloskin terpacu untuk tetap bertahan di tengah persaingan klinik estetika yang semakin menjamur.

“Untuk bersaing, kamu berupaya untuk menghadirkan inovasi-inovasi yang terbaru. Kami akan membawa tren kecantikan yang ada di dunia untuk dihadirkan di Indonesia. Selain itu, kami akan terus meningkatkan servis,” ujar Nanang Masrani, Pendiri klinik kecantikan Gloskin.

Saat ini, Gloskin memiliki 12 cabang yang lebih banyak terdapat di Jawa. Kemudian, selain di Jawa, outlet Gloskin terdapat di di Kalimantan, Bali, Lombok, hingga Makassar. Untuk tahun ini, Gloskin belum berencana menambah outlet baru. Alasannya, Gloskin ingin berfokus mengoptimalkan outlet-outlet yang sudah ada.

“Ke depan, Anang masih melirik daerah-daerah di Jawa sebagai pasar potensial mengingat populasi penduduk di pulau ini pun besar,” tambah Nanang.

Menurutnya, setiap daerah memiliki permintaan yang berbeda untuk tampil cantik. Kalimantan misal, masyarakat di sana masih cukup takut dengan teknologi dalam melakukan perawatan. Jadi, mereka biasanya melakukan perawatan yang standar, seperti facial maupun skin care. Sebaliknya, Jakarta merupakan kota yang mana penduduknya banyak melakukan perawatan.

Pasien Gloskin bukan hanya kaum Hawa. Perawatan yang satu ini pun mulai diminati para laki-laki. Pasien laki-laki tentu memiliki keingian yang berbeda dengan perempuan. Sebab itu, Gloskin mencoba memahami apa yang menjadi keinginan pasien mereka.

“Dalam melakukan perawatan, laki-laki tidak mau ribet dan tidak ingin terlau sering datang ke klinik. Lalu, untuk jenis tindakan yang paling banyak dipilih adalah botox dan PRP,” tutup Nanang.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Related

award
SPSAwArDS