Strategi Pelindo dan Transjakarta Sajikan Transformasi Layanan

marketeers article
Ilustrasi logistik. (FOTO: 123RF)

Transportasi dan logistik merupakan tulang punggung ekonomi negara yang memainkan peran krusial dalam mendukung perdagangan, distribusi barang, serta mobilitas masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan yang semakin kompleks, sektor ini dituntut untuk menyajikan transformasi.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menjadi salah satu perusahaan yang mengalami transformasi signifikan dengan melakukan merger dengan empat entitas. David P. Sirait, President Director PT Terminal Teluk Lamong menyampaikan bahwa ini adalah langkah strategis untuk mengintegrasikan dan mengoptimalkan operasi pelabuhan di seluruh Indonesia.

“Menyatukan visi dan misi dari empat entitas yang sebelumnya berdiri sendiri merupakan tantangan besar. Terutama, dalam hal penyamaan standar pelayanan dan peralatan yang berbeda di setiap Pelabuhan,” ujarnya dalam acara Jakarta Marketing Week (JMW) 2024 sesi Futuristic Transportation & Logistic, Rabu (15/5).

BACA JUGA: Deklarasi Wonderful Indonesia 2030: Komitmen Industri Pariwisata Soal SDGs

Sebagaimana diketahui, Indonesia dengan belasan ribu pulau dan ribuan pelabuhan memiliki tantangan logistik yang unik. Dengan adanya merger ini, Pelindo dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan daya saing global Indonesia di sektor maritim.

“Biaya logistik dari Jakarta ke wilayah timur atau barat Indonesia sering kali lebih mahal dibandingkan ke luar negeri, seperti ke Shanghai. Dengan merger ini, kami bisa mengatasi ketidakseimbangan tersebut dan menurunkan biaya logistik domestik,” tuturnya dalam kegiatan yang digelar di Mall Kota Kasablanka, Jakarta tersebut.

Dengan transformasi yang sedang berlangsung, Pelindo memiliki visi untuk menjadi ‘world class integrated leader in maritime ecosystem”. Ini berarti transformasi tidak hanya fokus pada pelabuhan, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem maritim, dari pintu ke pintu, demi mendukung ekosistem logistik dan rantai pasokan yang efisien.

BACA JUGA: Cara Melacak Posisi Bus TransJakarta di Google Maps secara Real-Time

Di sisi transportasi darat, Transjakarta, sebagai salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah menunjukkan komitmen kuat dalam mengubah wajah transportasi publik di Jakarta.

Berdasarkan data dari World Resources Institute (WRI), penggunaan mobil pribadi dan motor menghasilkan emisi CO2 sekitar 1,23 kg per orang. Namun, jika transportasi tersebut digantikan oleh bus, emisi dapat berkurang secara signifikan, terutama jika bus tersebut berbahan bakar listrik yang dapat mengurangi emisi hingga 99,9%.

“Oleh karena itu, Transjakarta telah berkomitmen untuk tidak lagi mengadakan bus yang menghasilkan emisi mulai tahun ini, dengan beralih sepenuhnya ke armada listrik untuk penambahan dan penggantian bus,” jelas Fadly Hasan, Direktur Pelayanan dan Bisnis PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

BACA JUGA: Meski Lebih Mahal, Produk Daimler Euro 5 Bisa Tekan Biaya Operasional

Selain itu, sebagai operator layanan publik yang melayani sekitar 1,2 juta pelanggan per hari dengan durasi layanan 24 jam, Transjakarta harus menangani sekitar 32 ribu voice of customer setiap bulan. Untuk itu, dukungan teknologi menjadi sangat penting.

“Kami terus melakukan perbaikan digitalisasi melalui call center, CRM, dan sistem informasi penumpang. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pelanggan, menjadikan transportasi publik sebagai gaya hidup yang modern dan terintegrasi,” tambah Fadly.

Dengan komitmen terhadap keberlanjutan dan inovasi, Transjakarta tidak hanya mengubah wajah transportasi publik, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menjadikannya bagian dari gaya hidup modern.

Editor: Eric Iskandarsjah

Related