Survei Alto Networks: 63% Perusahaan Tingkatkan Biaya Keamanan Siber

marketeers article
Ilustrasi Keamanan Siber (FOTO:123RF)

Palo Alto Networks, perusahaan keamanan siber melaporkan hasil survei terbaru bertajuk State of Cybersecurity ASEAN 2023. Dalam laporan tersebut, ditemukan sebanyak 63% perusahaan di Indonesia meningkatkan anggaran mereka yang dialokasikan untuk keamanan siber pada tahun 2023.

Steven Scheurmann, Regional Vice President untuk ASEAN di Palo Alto Networks menuturkan survei ini dilakukan secara online pada bulan April 2023 dengan melibatkan sekitar 500 pimpinan dan pengambil keputusan di bidang IT pada lima industri utama di Asia Tenggara, yaitu sektor layanan jasa seperti perbankan dan keuangan. Kemudian, pada sektor pemerintahan publik telekomunikasi, ritel dan perhotelan, food & beverage (F&B), transportasi dan logistik, serta manufaktur. 

Terdapat sekitar 100 responden yang berasal dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

BACA JUGA: 66% Organisasi di RI Laporkan Pembobolan Keamanan Siber

“Tercatat lebih dari 53% dari perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa keamanan siber menjadi topik yang kerap dibahas di tingkat dewan direksi setiap kuartal dan menjadi agenda utama bagi sebagian besar dewan direksi, menempatkan Indonesia di posisi tertinggi kedua di ASEAN setelah Filipina. Hal tersebut menjadi alasan bagi 63% organisasi di Indonesia untuk meningkatkan anggaran mereka yang dialokasikan untuk keamanan siber pada tahun 2023,” kata Steven melalui keterangannya, Rabu (20/9/2023).

Temuan lain dari penelitian ini adalah sebanyak 30% organisasi di Indonesia mencatat peningkatan anggaran hingga lebih dari 50% untuk tahun 2023. Jika dibandingkan dengan tahun 2022 (year-on-year/yoy), peningkatan ini merupakan suatu tren yang sangat positif karena makin banyak organisasi yang berupaya mendongkrak kemampuan menghadapi ancaman keamanan siber.

BACA JUGA: Survei: Seperempat Level C di Asia Tenggara Tak Paham Keamanan Siber

Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan anggaran keamanan siber adalah digitalisasi. Sebanyak 75% perusahaan di Indonesia mengalokasikan anggaran mereka di sektor tersebut, yang memosisikan Indonesia sebagai yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Meskipun keyakinan ini tercermin di seluruh sektor industri di kawasan Asia Tenggara, keamanan siber tetap menjadi prioritas utama, terutama di sektor perbankan dan jasa keuangan serta transportasi dan logistik. Jika dibandingkan dengan organisasi besar, organisasi kecil di Indonesia cenderung kurang merasa yakin dalam menghadapi tantangan keamanan siber, karena terkendala anggaran yang terbatas.

Selain itu, kata Steven, alasan lainnya adalah kurangnya sumber daya manusia yang mumpuni dalam menangani tantangan ancaman siber. Keyakinan para perusahaan terhadap langkah-langkah pertahanan keamanan siber yang mereka lakukan menunjukkan perusahaan akan terus waspada terhadap berbagai macam ancaman siber yang kian berkembang.

“Di sisi lain, keyakinan tersebut perlu disertai dengan kewaspadaan. Pendekatan proaktif terhadap keamanan siber sangatlah dibutuhkan saat ini, sehingga membutuhkan peran aktif dari semua pihak di dalam organisasi,” ujarnya.

Steven menyebut setidaknya ada tiga tantangan dalam menjaga keamanan siber dari perusahaan di Indonesia. Mayoritas responden menyebut peningkatan aktivitas transaksi digital yang melibatkan pihak ketiga menjadi tantangan paling besar dengan persentase 58%.

Kemudian tantangan selanjutnya, yakni ancaman dari perangkat Internet of Things (IoT) yang tidak terpantau sebesar 49%, serta ketergantungan pada layanan dan aplikasi yang berbasis cloud 48%. Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti bagaimana bisnis dengan skala besar di Indonesia mengalami peningkatan risiko keamanan dari perangkat IoT yang tidak aman dan risiko yang timbul akibat meningkatnya penggunaan layanan berbasis cloud.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS