TaniHub Group: Bisnis Harus Ada Unsur Profitability dan Sustainability

profile photo reporter Muhammad Perkasa Al Hafiz
MuhammadPerkasa Al Hafiz
27 Oktober 2021
marketeers article
TaniHub Group sebagai startup agritech and e-grocery telah memasuki tahun kelima berkarya di sektor pertanian Indonesia. Sejak lima tahun lalu, TaniHub Group bercita-cita membangun ekosistem agrikultur end-to-end. Untuk menandakan tahun kelima pelayanannya, TaniHub Group kembali mengadakan Taniversary dan mengusung tema #AdaUntukMu.
Melalui komunikasinya ini, TaniHub Group berharap dapat membuat mitra TaniHub, konsumen, hingga masyarakat umum dapat menikmati langsung berbagai manfaat dari pertanian dan petani Indonesia. Bukan sekadar mengejar profitabilitas, TaniHub Group percaya bahwa sebuah bisnis harus memiliki kemampuan untuk berkelanjutan. 
“Hingga saat ini TaniHub Group telah memiliki lebih dari 50 ribu petani mitra di seluruh Indonesia. Kami hadir dari misi menjawab membantu petani, khususnya dalam persoalan sulitnya mendapatkan akses pasar,” ujar Pamitra Wineka, CEO TaniHub Group saat konferensi pers virtual beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Wineka menceritakan bahwa pihaknya saat mendirikan TaniHub tak terpikirkan untuk membangun sebuah startup. TaniHub yang didirikan pada tahun 2016 hadir sebagai inisiatif sosial karena melihat para petani yang membuang hasil panen.
Selain itu, Wineka juga melihat persoalan regenerasi dari para petani. Pasalnya, sektor yang diisi oleh sekitar 30% pekerja di Indonesia ini masih menyimpan citra jauh dari kesejahteraan. Sebab itu, ekosistem ini mulai dibenahi, khususnya dengan menggunakan teknologi digital.
Hingga kini, TaniHub Group telah melahirkan berbagai inovasi, mulai dari TaniHub, TaniFund, TaniSupply, dan TaniAcademy. Dalam satu tahun terakhir ini TaniHub Group juga menghadirkan TaniHub Food Solutions yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan bahan segar berkualitas bagi semua jenis usaha makanan dan minuman.
Selain itu, perusahaan juga menghadirkan TaniMitraKoperasi (TMK) sebagai program untuk memberdayakan koperasi petani melalui dukungan layanan digital. Untuk melengkapi dukungan terhadap pertanian, TaniHub Group menghadirkan TaniFoundation yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan keluarga petani secara jangka panjang.
Tidak hanya memberikan layanan bagi masyarakat, TaniHub Group juga menciptakan lapangan kerja yang diminati oleh para talent negeri ini. Hal tersebut dibuktikan dengan masuknya TaniHub Group dalam daftar perdana LinkedIn Top Startups 2021 yang diumumkan baru-baru ini. Perusahaan dinilai mampu bertumbuh dan berhasil menarik investasi serta merekrut pencari kerja dalam situasi pandemi COVID-19. 
“Dalam perjalanan lima tahun ini, banyak pelajaran yang kami lalui sehingga kami terbiasa untuk terus berinovasi demi memberikan layanan terbaik bagi semua stakeholders, baik itu petani, user, maupun pemerintah,” papar pria yang akrab disapa Eka ini.
Eka juga memaparkan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terus bertumbuh meskipun pandemi. Bahkan, tetap menjadi salah satu penopang besar perekonomian Indonesia.
“Dukungan pemerintah melalui APBN 2022 di sektor pertanian juga sudah sangat besar untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi. Tinggal kami sebagai platform agritech untuk membantu para petani untuk go digital dan mendistribusikan hasil pertanian lokal ke seluruh Indonesia,” lanjutnya
TaniFund
TaniHub Group juga mengajak dan menjembatani masyarakat yang ingin terlibat dalam peningkatan pertanian Indonesia dengan menyalurkan pendanaan melalui TaniFund. 
Pada tahun 2021, TaniFund meluncurkan mobile app untuk Android yang memudahkan masyarakat melakukan pendanaan berdampak sosial. Dalam waktu yang bersamaan, TaniFund juga mendapatkan lisensi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 
Pengakuan dari OJK ini juga mengukuhkan TaniFund sebagai platform Agriculture Peer-to-Peer Lending pertama yang mendapatkan lisensi di Indonesia. Dengan dua pencapaian ini, TaniFund ingin meningkatkan lending experience bagi para pendana (lender).
“Kami pun berhasil menyalurkan pendanaan P2P ini hampir Rp 400 miliar. Kami memiliki misi pada tahun 2024 dapat menjangkau 1 juta petani,” tutup Eka.

Related