UK Jadi Negara Paling Rentan Resesi, Bagaimana dengan Indonesia?

marketeers article
Soal Resesi Global pada 2023, Hipmi Pastikan RI Tak Terdampak. (FOTO: 123rf)

Bloomberg merilis hasil riset terbaru terkait negara-negara di seluruh dunia yang paling rentan mengalami resesi pada tahun 2023. Hasilnya, United Kingdom (UK) atau Inggris Raya menjadi negara dengan risiko tertinggi menghadapi resesi.

Adapun pengertian resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi yang berada pada level minus dalam jangka waktu dua kuartal berturut-turut. Resesi dapat diukur berdasarkan turunnya produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara.

BACA JUGA: ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI 4,8% pada Tahun 2023

Dalam laporan tersebut persentase risiko resesi yang terjadi di UK mencapai 75%. Pada urutan kedua ditempati oleh Selandia Baru dengan persentase sebesar 70%.

Selanjutnya, urutan ketiga hingga kelima ditempati Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Italia. Masing-masing negara memiliki persentase terjadi resesi sebesar 65%, 60%, dan 60%.

BACA JUGA: Tertinggi Sejak 2013, Pertumbuhan Ekonomi 2022 Tembus 5,31%

Sementara itu, India menjadi negara paling aman dari ancaman resesi dengan persentase 0%. Lalu, diikuti dengan Indonesia sebagai negara paling kuat dari ancaman resesi kedua dengan persentase 2%.

Tiga negara lainnya dengan persentase terendah menghadapi ancaman resesi, yakni Arab Saudi, China, dan Brazil. Persentase terjadinya resesi ketiga negara sebesar 5%, 12,5%, dan 15%.

Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Sahara Research Institute optimistis Indonesia tidak akan mengalami resesi pada tahun ini. Dia bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional berada di level 4,7% hingga 5,25%.

Keyakinan Piter tidak terjadinya resesi di Tanah Air berdasarkan tingginya konsumsi dalam negeri. Kondisi makin diuntungkan dengan adanya dorongan dari pemerintah agar konsumsi kian meningkat.

“Pertumbuhan ekonomi kita didorong oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga. Setiap tahunnya, perekonomian Indonesia cenderung ditopang oleh konsumsi dalam negeri, jika dilihat dari komponen pengeluaran,” katanya, dikutip Senin (17/4/2023).

Berdasarkan hasil pertumbuhan ekonomi tahun 2022, kata Piter, tercatat berada di level 5,31%. Dari hasil itu, kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 2,61%.

“Saat itu kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) masih diberlakukan. Sedangkan sekarang kan sudah dibuka lagi, jadi situasinya akan semakin baik,” tuturnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS