Value Proposition Canvas: Pastikan Produk Sesuai Ekspektasi Pelanggan

marketeers article
value proposition canvas | sumber: 123rf

Banyak produk baru diciptakan namun tidak sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Inilah yang menyebabkan produk gagal. Untuk mengetahui apakah produk Anda benar-benar sesuai ekspektasi pelanggan, Anda dapat menggunakan tools Value Proposition Canvas. 

Value Proposition Canvas ini merupakan tools model bisnis yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder. Tools ini bisa membantu Anda untuk memetakan produk sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. 

Dengan merancang value proposition, bisnis akan dapat dengan jelas memotret apakah produk Anda sudah fit dengan kebutuhan pasar atau malah ternyata memerlukan perbaikan lebih lanjut dari segi produk, nilai, target pasar, dan lain sebagainya.

Untuk memahami lebih dalam mengenai tools value proposition yang satu ini, Marketeers telah merangkumnya dari berbagai sumber.

Apa itu value proposition canvas?

Dilansir dari Strategyzer, value proposition canvas adalah sebuah tool yang cocok digunakan oleh para marketing experts, product owners, dan value creators.

Metode ini dikupas secara mendalam oleh Osterwalder dalam bukunya yang berjudul Value Proposition Design dan telah banyak digunakan oleh para perusahaan besar dan startup di seluruh dunia. 

Dalam kanvas value proposition ini terdapat dua building blocks, yaitu customer profile dan value map. Berikut penjelasannya.

Customer profile

Gains: manfaat yang diinginkan dan dibutuhkan pelanggan, sehingga pelanggan senang dan puas.

Pains: pengalaman negatif, kekurangan produk, dan hal-hal yang belum terfasilitasi oleh produk untuk pelanggan.

Customer jobs: permasalahan dan kebutuhan yang ingin diselesaikan dan dipenuhi oleh pelanggan, baik emosional, sosial, dan fungsional.

BACA JUGA: Value Proposition: Nilai Suatu Produk Bukan Sekadar Janji Manis Saja

Value map

Gain creators: bagaimana produk dan layanan diciptakan untuk memenuhi customer gains dan bagaimana dapat memberikan added value proposition kepada pelanggan.

Pain relievers deskripsi mengenai produk atau layanan yang dapat menyelesaikan permasalahan pelanggan.

Product and services produk dan layanan yang dapat memenuhi customer gain dan menyelesaikan customer pain melalui nilai produk kepada pelanggan.

value proposition canvas
value proposition canvas | sumber: Strategyzer

Pentingnya menggunakan value proposition canvas

Tools value proposition yang satu ini banyak digunakan oleh para startup dan inovator, berikut beberapa alasan penting mengapa bisnis perlu membuat value proposition canvas.

1. Memahami pelanggan, kebutuhan, dan keinginannya. 

2. Mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan. 

3. Sebagai alat perbandingan antara produk ideal dan produk yang pelanggan gunakan.

4. Menemukan product-market fit.

5. Menghindari pengembangan produk yang berisiko gagal.

6. Menghemat waktu dan biaya.

7. Memvisualisasikan nilai dari produk yang Anda ciptakan.

8. Mengidentifikasi peluang pengembangan produk untuk diferensiasi.

BACA JUGA: Mind Mapping: Petakan dan Visualisasikan Ide agar Mudah Diingat

Ketika Anda telah mengidentifikasi setiap elemen yang ada dalam value proposition canvas, Anda akan dapat memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai nilai yang sebenarnya pelanggan Anda cari dan inginkan.

Produk yang memiliki value proposition yang fit dengan pasarnya akan dapat memberikan kepuasan yang jauh lebih baik bagi pelanggan. Hal ini secara langsung akan mendorong penjualan bahkan menjadi loyal pada produk Anda.

Identifikasi dari value proposition ini umumnya dilakukan pada tahapan awal dan nantinya perlu Anda evaluasi dan validasi kembali secara repetitif. Ini berguna untuk terus memperbaiki dan menjaga relevansi produk Anda dengan pelanggan.

Kepuasan pelanggan di atas segalanya. Produk yang baik akan mampu memberikan competitive advantage bagi perusahaan Anda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk benar-benar memahami bagaimana caranya produk Anda dapat semenarik itu di mata calon pelanggan Anda.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

BACA JUGA: Empathy Map: Human-Centered Design, Lebih Dekat dengan Pelanggan

Related