Viral Anak Diajak Nonton Film Sadis, Ini Bahayanya bagi Psikologis

marketeers article
Ilustrasi anak menonton film sadis di bioskop (Foto: 123rf)

Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan perihal anak yang dibawa ke bioskop untuk menonton film horor dengan adegan-adegan sadis di dalamnya. Padahal, film tersebut memiliki rating D17+ yang berarti hanya boleh ditonton oleh usia 17 tahun ke atas.

Tak sedikit warganet yang lantas mengecam orang tua yang membawa anaknya menonton film tersebut. Ada pula yang mempertanyakan kebijakan pihak bioskop karena mengizinkan anak menonton film dengan rating dewasa. 

Kecaman tersebut bukan tanpa alasan. Melansir Hello Sehat, film sadis memang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak yang menontonnya. 

Pasalnya, mereka bisa saja meniru apa yang dilihat di film tersebut.

BACA JUGA: Suka dengan Siksa Kubur? Ini 5 Film Serupa Bergenre Horor Psikologis

Dampak Menonton Film Sadis bagi Psikologis Anak

Guntarto dalam Growing up with TV (2000) mengatakan bahwa anak yang terlalu banyak menonton film dan tayangan televisi yang berbau kekerasan dapat tumbuh menjadi sosok anak yang sulit berkonsentrasi dan kurang perhatian pada lingkungan sekitar. 

Tidak hanya itu, Anderson dalam The Impact of Violent Video Games: an overview (2012) juga menjelaskan bahwa anak yang menonton film kekerasan cenderung memandang dunia sebagai tempat yang kurang simpatik, berbahaya, dan menakutkan. 

Anggapan negatif terhadap dunia luar itu lambat laun bisa menumbuhkan sikap dan kepribadian agresif pada anak. Dengan kata lain, film bertema kekerasan dengan adegan-adegan sadis di dalamnya dapat menumbuhkan sikap psikopatik pada anak.

BACA JUGA: Mengenal Skizofrenia, Gangguan yang Dialami Ibu Bunuh Anak di Bekasi

Para peneliti juga menemukan bahwa anak yang sering menonton film sadis akan melakukan tindakan kriminal saat dewasa. Mereka cenderung menunjukkan sikap agresif, antisosial, dan emosi negatif yang sering disebut dengan sosiopat atau psikopat.

Kondisi tersebut membuat pengidapnya tidak dapat merasakan empati terhadap sekitarnya. Mereka pun sering menunjukkan sikap manipulatif, bahkan bertentangan dengan hukum seperti compulsive liar, mencuri, merusak properti, dan kekerasan.

Individu dengan kepribadian psikopati umumnya tidak memiliki rasa penyesalan dan bersalah atas perbuatannya terhadap orang lain. Bukan cuma itu, mereka juga sama sekali tidak punya, atau hanya sedikit, rasa tanggung jawab.

Karena itulah, orang tua diharapkan bijak memilih tontonan untuk anak. Jangan paksakan mereka menyaksikan film sadis yang sedang tren.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS