Cina Belum Pulih, Mayoritas Kinerja Industri di Asia Melemah

marketeers article
Ilustrasi industri manufaktur. (FOTO: 123rf)

Aktivitas industri di Asia melemah pada Desember 2023. Hal ini menandakan awal yang goyah bagi kekuatan manufaktur di wilayah tersebut pada tahun 2024.

Dilansir dari Reuters, Selasa (2/1/2024), hal itu disinyalir akibat pemulihan ekonomi Cina yang terbatas sehingga menghambat permintaan secara umum. Sejumlah indeks manajer pembelian (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan aktivitas industri terus menurun di sebagian besar ekonomi Asia pada akhir tahun lalu dan kepercayaan secara umum merosot.

Masalah ekonomi untuk ekonomi Asia yang didominasi teknologi terus berlanjut dengan aktivitas industri Korea Selatan (Korsel) kembali mengalami penurunan dan Taiwan memperpanjang kontraksinya selama 19 bulan berturut-turut. 

BACA JUGA: Inovasi, Narasi, dan Koneksi: Tips Sukses Challenger Brand Industri F&B

PMI Caixin Cina menunjukkan percepatan tidak terduga dalam aktivitas industri pada bulan Desember. Ini berbeda dengan PMI resmi Beijing yang dirilis pada Minggu (31/12/2023) yang tetap berada dalam wilayah kontraksi selama tiga bulan berturut-turut.

Prospek ekonomi yang beragam untuk Cina terus mengaburkan proyeksi mitra dagang utamanya.

“Secara keseluruhan, prospek ekonomi sektor manufaktur (Cina) terus membaik pada bulan Desember, dengan pasokan dan permintaan yang berkembang dan tingkat harga tetap stabil,” kata Wang Zhe, ekonom senior di Caixin Insight Group.

BACA JUGA: Hubungkan dengan Kawasan Industri, Pelindo Bangun Terminal Kijing

“Namun, ketenagakerjaan tetap menjadi tantangan signifikan, dan sektor bisnis mengungkapkan kekhawatiran tentang masa depan, tetap berhati-hati dalam hal perekrutan, pembelian bahan baku, dan pengelolaan persediaan,” Zhe menambahkan.

Beijing dalam beberapa bulan terakhir telah memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk mendukung pemulihan pasacpandemi yang lemah. Namun, ekonomi terbesar kedua di dunia itu kesulitan untuk mendapatkan momentum di tengah resesi properti yang parah, risiko utang pemerintah lokal dan permintaan global yang lemah.

Adapun PMI negara lain di Asia menunjukkan sektor industri Malaysia dan Vietnam tetap terkontraksi, sementara Indonesia sedikit mengalami peningkatan. PMI India bulan lalu akan dirilis pada Rabu (3/1/2024), sementara Jepang dijadwalkan Kamis (4/1/2024).

Meskipun PMI Desember Asia pada umumnya negatif, indikator terbaru lainnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan pascapandemi untuk wilayah ini mulai mendapatkan momentum. Data yang dirilis pada Senin (1/1/2024) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Singapura meningkat pada kuartal terakhir tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, didorong sektor konstruksi dan manufaktur yang lebih kuat.

Sementara itu, Korea Selatan mencatatkan ekspor yang meningkat pada akhir kuartal 2023 meskipun dengan laju yang lebih lambat. Pasalnya, permintaan Cina yang lebih lemah menutupi penjualan global yang kuat untuk semikonduktor.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS