CIPS: Kecerdasan Buatan Jadi Peluang untuk Pendidikan di Indonesia

marketeers article
CIPS: Kecerdasan Buatan Jadi Peluang Untuk Pendidikan di Indonesia (FOTO: 123RF)

Penggunaan artificial intelligence atau kecerdasan buatan dalam sektor pendidikan sudah tidak dapat terhindarkan. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai ketimbang dihindari, kehadirannya dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kompetensi siswa Indonesia.

“Lebih baik, sekolah memperkenalkan teknologinya seperti apa, memberikan koridor atau mungkin ruang untuk apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dan kemudian ya bisa evaluasi dari peraturan yang dibuat oleh sekolah dan guru,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza dalam keterangannya, Senin (5/6/2023).

Nadia menambahkan kehadiran kecerdasan buatan perlu disikapi serius oleh sektor pendidikan karena hal ini berkaitan dengan kompetisi yang kelak akan dibutuhkan tenaga kerja. Sektor pendidikan perlu mengantisipasi segala risiko dan kemungkinan yang muncul, sehingga larangan bukanlah opsi yang tepat.

Teknologi ini perlu dimanfaatkan untuk hal hal yang positif. Misalnya saja penggunaan ChatGPT yang mungkin awalnya dianggap sebagai sebuah ancaman, ternyata memiliki potensi yang besar untuk mempermudah belajar atau bekerja.

BACA JUGA: Perkuat Layanan Investasi, JPMorgan Akan Siapkan AI Mirip ChatGPT

“Adaptasi ini juga perlu supaya kita tidak tertinggal karena pasar kerja begitu dinamis dan siswa Indonesia perlu berdaya saing,” ucapnya.

Namun demikian, ia menegaskan penggunaan kecerdasan buatan perlu diikuti oleh critical thinking atau kemampuan berpikir kritis dan keterbukaan. Kemampuan berpikir adalah dasar yang dibutuhkan siswa dalam menerima berbagai inovasi dan konsep baru sehingga mereka dapat berpikir, menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan dari informasi yang sudah didapatkan.

Dalam kaitannya dengan kecerdasan buatan, kemampuan ini penting untuk mengolah informasi yang telah didapat secara daring. Sayangnya, kemampuan berpikir berpikir kritis belum banyak dibudayakan dalam sektor pendidikan Indonesia, baik untuk guru maupun siswa.

Keterbukaan juga dibutuhkan sebagai sikap yang netral dan tidak memihak sehingga siswa sudah terbiasa dengan segala bentuk perbedaan dalam pemikiran. Perlu adanya usaha pemerintah untuk meningkatkan akses internet terutama untuk daerah rural Indonesia dan masyarakat menengah ke bawah. 

Di sisi lain, konten pembelajaran TIK dapat direvisi agar lebih relevan dengan tuntutan masa kini yang memerlukan adanya kemampuan mengevaluasi informasi yang didapat dari sumber-sumber digital.

BACA JUGA: Memahami Machine Learning dalam Kecerdasan Buatan

Selain itu, kebiasaan berpikir kritis harus dikembangkan sejak di bangku sekolah untuk menciptakan masyarakat yang melek digital dan bertanggung jawab. 

“Kita harus tetap mengembangkan kemampuan yang tidak akan tergantikan oleh teknologi itu. Kehadiran kecerdasan buatan bisa menjadi cambuk bagi sektor pendidikan untuk terus menerus berinovasi,” tuturnya.

Perspektif sektor pendidikan Indonesia secara umum perlu mengandung prinsip yang mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis untuk bisa akomodasi teknologi dengan cara yang produktif dan berdampak baik terhadap hasil yang diperoleh siswa.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS