CIPS: Penggunaan Kecerdasan Buatan Perlu Dukungan Infrastruktur ICT

marketeers article
CIPS: Penggunaan Kecerdasan Buatan Perlu Dukungan Infrastruktur ICT (FOTO: 123RF)

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengatakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu dukungan infrastruktur ICT atau information, communication and telecommunication. Sayangnya di Indonesia, kesenjangan digital antarwilayah masih besar.

“Dengan keikutsertaan Indonesia menjadi bagian dari komunitas ekonomi dunia, akan semakin banyak orang Indonesia membutuhkan akses informasi dan pendidikan demi mempersiapkan sektor pendidikan dan tenaga kerja yang kuat dan kompetitif,” terang Peneliti CIPS Natasya Zahra dalam keterangannya, Senin (10/7/2023).

Lanskap geografis Indonesia sebagai negara kepulauan memberikan tantangan besar bagi pendidikan dan informasi untuk mencapai mereka di daerah terjauh Indonesia, yang umumnya memiliki keterbatasan dalam akses ke sekolah dan institusi pendidikan.

BACA JUGA: CIPS: Literasi dan Inklusi, Kunci Kepercayaan Industri Jasa Keuangan

Menyediakan infrastruktur dan teknologi ICT di pedesaan sangat mungkin berjalan secara berkelanjutan melalui sektor swasta. Dalam menyediakan alat dan teknologi, perusahaan swasta juga akan menuai keuntungan jangka panjang dengan memiliki akses ke jutaan pengguna internet.

Dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, daerah-daerah yang sudah memiliki akses internet ataupun sekolah-sekolah yang sudah memiliki akses terhadap teknologi ataupun internet umumnya berkembang lebih cepat daripada sekolah-sekolah yang tidak mendapatkan akses tersebut sama sekali gitu.

Jadi, lanjutnya, memang di sini ada risiko di mana dampak dari adopsi teknologi dan internet itu bisa berbeda yang akan berbuntut pada hadirnya kesenjangan. Kesenjangan ini perlu diakui dan diatasi oleh pemerintah, dengan fokus pada upaya untuk memastikan semua daerah memiliki akses pada internet dan infrastruktur.

Natasya menambahkan, kecerdasan buatan secara umum bisa digunakan untuk mempermudah kehidupan dan meningkatkan produktivitas, termasuk di sektor pendidikan.

“Misalnya saja, kecerdasan buatan dapat mendukung personalized learning karena dapat membantu guru untuk  menganalisis performa akademik siswa, mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan masing-masing siswa, dan kemudian mendesain bentuk pembelajaran maupun konten yang tepat untuk masing-masing siswa,” lanjutnya.

BACA JUGA: CIPS: Kecerdasan Buatan Jadi Peluang untuk Pendidikan di Indonesia

Guru juga dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat soal ujian misalnya, atau mendesain silabus dengan mendesain program-program pembelajaran. Terkait personalized learning tadi, dengan begitu, siswa juga bisa memahami dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam  suatu materi pembelajaran.

Diharapkan, guru bisa membantu siswa untuk memperbaiki hal-hal yang masih dianggap kurang. Namun tantangan berat lainnya, yaitu masih rendahnya tingkat literasi digital masyarakat, juga perlu diatasi.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia pada literasi digital, inklusi digital dan inklusi keuangan dalam pemanfaatan berbagai inovasi produk dan layanan hanya bisa terealisasi apabila kondisi infrastruktur digital telah memadai.

Infrastruktur digital juga harus dimanfaatkan secara optimal dengan tata kelola yang berlandaskan pada asas berkelanjutan dan pemerataan pembangunan.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related

award
SPSAwArDS