Jadi Luapan Keresahan, Gen Z Harus Rebut Kembali Citayam Fashion Week

profile photo reporter Muhammad Perkasa Al Hafiz
MuhammadPerkasa Al Hafiz
04 Agustus 2022
marketeers article
Ilustrasi Gen Z (Sumber: 123RF)
Fenomena Citayam Fashion Week belakangan tengah ramai dibicarakan. Aksi peragaan busaha di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat ini menjadi buah bibir dari berbagai kalangan. Bukan model ternama, model dari Citayam Fashion Week ini adalah para remaja Gen Z dari wilayah Citayam, Bojonggede, dan Depok yang bertemu di Sudirman hingga mendapat julukan SCBD (Sudirman-Citayam, Bojonggede, Depok). 
Dibuat oleh generasi Z, fenomena ini menarik perhatian banyak orang termasuk generasi yang lebih tua, yakni milenial dan Gen X. “Alvara telah mengkaji soal Gen Z. Ada beberapa temuan menarik yang kami dapat. Di Citayam Fashion Week, kita bisa lihat fenomena ini dominasi Gen Z sangat terlihat dan berani berekspresi, bahkan cenderung “radikal”. Sangat sangat berani keluar dari hal yang umum,” ujar Hasanuddin Ali, CEO & Founder Alvara Research Center saat mengunjungi Studio Marketeers TV, Kamis (4/08/2022).
Bukan tanpa alasan, riset Alvara menyebut bahwa tingkat kecemasan Gen Z lebih tinggi terutama terkait prospek masa depan. Hal ini didorong oleh kehadiran pandemi COVID-19 dan krisis ekonomi yang mengikutinya yang hadir di masa Gen Z ini tengah mengenyam bangku pendidikan. Beda dengan nasib milenial dan Gen X yang kini sudah mulai mapan lantaran sudah bekerja cukup lama. 
“Gen Z yang melihat fenomena pandemi ketika umur mereka terbilang belia, melihat masa depan mereka sedang tidak baik-baik saja,” lanjut Hasanudin. 
Di sisi lain, Gen Z merupakan internet holic. Karakter ini hampir sama dengan milenial namun lebih berat kadar kecanduannya. Generasi ini ditemukan juga menjadi generasi yang tech savvy, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi dan menjadi kunci sukses mereka dalam membangun kompetensi diri. Karakter ini membuat Gen Z lihai melahirkan tren-tren baru. Soal konten, Gen Z lebih suka visual ketimbang produk narasi. Ketika brand berkomunikasi dengan Gen Z, maka baiknya menggunakan visual dibanding narasi.
Menariknya, Gen Z lebih suka produk yang sedang tren ketimbang sekadar produk yang dikemas dengan promosi diskon harga. Meski begitu, product lifecycle hari ini sangat pendek siklusnya. Sebuah tren bisa naik dengan sangat cepat namun juga turun dengan cepat. Temuan ini pun sejalan dengan apa yang terjadi dengan fenomena Citayam Fashion Week.
“Seperti halnya fenomena Citayam Fashion Week yang kini tengah menurun. Dari fenomena ini, satu hal yang perlu dicatat, Gen Z bisa dioptimalkan untuk membuat tren-tren baru. Kami juga melihat, yang melakukan copy paste dari fenomena Citayam Fashion Week ini justru generasi milenial dan Gen X untuk kepentingan yang tidak ada kaitannya dengan anak muda. Lebih banyak untuk kepentingan orang tua. Harusnya, anak-anak muda ini mengambil alih kembali isu-isu yang mereka buat tadi,” tutup Hasan. 

Related