Mengintip Strategi Manajemen Produk Cold-Pressed Juice Re.juve

marketeers article
Produk cold-pressed juice Re.juve (Foto: Re.juve)

Re.juve belum lama ini menambah portofolionya dengan meluncurkan Coco Kopyor dan Guava Line. Kehadiran tiga produk baru ini melengkapi portofolio produk yang dimiliki perusahaan. Lantas, bagaimana Re.juve menjalankan strategi manajemen produk? Bagaimana proses R&D dan seperti apa lifecycle dari produk-produk minuman sehat mereka?

Dalam melahirkan inovasi produk, Re.juve menggunakan teknik cold-pressed. Dengan teknik ini, buah, sayur dan bahan segar lainnya tidak terpapar panas dan oksidasi selama proses pembuatan.

Diposisikan sebagai produk True Cold-Pressed Juice, minuman dari Re.juve ini berupa jus yang dibuat dengan teknologi mesin Cold-Pressed hidrolik dan triturating.

Di dalam produksinya, produk ini terjaga di suhu dingin mulai dari penyiapan bahan, pencucian, ekstraksi, penataan maupun pengantaran, sampai penikmat jus mengonsumsinya. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga nutrisi. Terlebih lagi, kandungan gizi seperti enzim, vitamin, mineral dan antioksidan mudah rusak jika terpapar panas.

BACA JUGA: Dibanderol Mulai Rp 42 Ribu, Re.juve Luncurkan Coco Kopyor & Guava Line

Di sisi lain, produk Re.juve yang dikenal tanpa tambahan gula dan tambahan air, perusahaan sangat selektif dalam memilih buah dan sayur yang akan mereka olah. Misalnya pada produk varian baru Coco Kopyor. Varian ini terbuat dari kelapa pandan wangi, daging kelapa kopyor, serta sedikit lemon segar. Kelapa pandan wangi dipilih karena memiliki aroma pandan di dalam airnya, serta memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan kelapa muda.

“Hadir sejak tahun 2014, kami telah memiliki produk sebanyak 50 Stock Keeping Unit (SKU) di 87 gerai yang tersebar di Jabodetabek, Karawang, Bandung, Cirebon, Surabaya, Bali, Semarang, Solo, Malang, Palembang, Lampung, dan Yogyakarta,” jelas Sari Siswarni, Associate Director of Sales & Marketing Re.juve kepada Marketeers beberapa waktu lalu.

Sari memaparkan, proses riset dan pengembangan atau R&D produk-produk Re.juve sangat tergantung dengan buah dan sayur yang ingin diolah. Misalnya pada varian produk berbahan dasar kiwi dan stroberi yang proses pengembangannya sudah lama sekali lantaran sulit sekali menemukan ramuan jus stroberi yang tidak pakai gula tapi bisa enak rasanya.

“Proses R&D dari setiap produk memakan waktu yang berbeda sampai kami mencapai formula yang kami mau. Begitu juga dengan kesediaan bahan baku dari alam, apakah akan tersedia untuk jangka panjang,” lanjut Sari.

BACA JUGA: Perlukah Key Opinion Leader Dilibatkan dalam Kampanye Marketing?

Selanjutnya, hal yang menentukan waktu dari proses Research & Development (R&D) produk Re.juve adalah lamanya pengurusan surat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Product lifecycle

“Untuk lifecycle produk, kami sudah ada kalender selama 1 tahun. Produk apa saja yang akan kami keluarkan itu sudah ada pipeline-nya. Pipeline ini tergantung juga dengan kesiapan dari produk tersebut. Lifecycle secara rata-rata akan terus di-review dari performa penjualannya. Kami juga meluhat apakah ada kanibalisasi dari hadirnya produk baru,” lanjut Sari.

Dari hasil review, Re.juve bisa mengambil keputusan apakah ada produk yang harus disetop, dihentikan sementara produksi dan penjualannya untuk suatau saat nanti di-revamp dan dikeluarkan kembali. Langkah-langkah ini sangat memerhatikan demand yang terjadi di pasar.

Related

award
SPSAwArDS