Lifestyle & Entertainment

Orang Tua Bisa Jadi Narasumber Andal Pendidikan Seksual

Photo Credits: DUREX

Pendidikan seksual masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Tak hanya orang tua, anak pun terkadang ragu untuk bertanya mengenai hal ini. Survei yang dilakukan Reckitt Benckiser Indonesia membuktikan, 61% remaja merasa takut dihakimi orang tua ketika mereka bertanya mengenai pendidikan seksual. Padahal, orang tua dapat menjadi narasumber andal dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak.

Orang tua memang masih menjadi sumber informasi pertama anak untuk berkonsultasi ketika mengalami tanda pubertas pertama kali (52%). Namun, ketika anak telah melewati tanda pubertas pertama (mimpi basah dan haid), mereka menjadi lebih nyaman membahas reproduksi kesehatan dan topik pendidikan seksual dengan teman atau teman sebaya (41%).

General Manager Reckitt Benckiser Indonesia Srinivasan Appan mengatakan, fenomena ini terjadi lantaran mereka takut dihakimi oleh orang tua ketika membahas topic tersebut. “Memahami situasi ini, kami mendorong keluarga di Indonesia untuk kembali mengambil peran mereka sebagai penasihat anak-anak mereka dan sumber informasi tepercaya tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi. Sekaligus, menemani mereka melewati tahap pertumbuhan,” ujar Srinivasan Appan di Jakarta, Kamis (18/07/2019).

Upaya pertama yang bisa dilakukan menurut Srinivasan adalah membangun pemahaman antara remaja dan orang tua untuk bersikap saling terbuka. Informasi penting mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS), risiko kesehatan pada kehamilan dan pernikahan di bawah usia 20 tahun, serta perlindungan organ reproduksi perlu disampaikan oleh keluarga sejak dini. Pasalnya, pengetahuan mengenai hubungan seksual yang didapat akan memengaruhi masa depan mereka.

Mengenal EDUKA5EKS

Selain orang tua, sekolah pun memegang peran penting dalam memberikan pendidikan seksual. 57% remaja mengaku, sekolah telah proaktif mengedukasi dan memberikan informasi mengenai pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi. Sayangnya, 73% remaja merasa topik pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi dari sekolah belum memadai.

Berangkat dari persoalan ini, Durex yang berada di bawah payung bisnis Reckitt Benckiser pun turut ambil peran. Melalui kampanye EDUKA5EKS, Durex meluncurkan lima langkah mudah yang menyerukan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi.

Adapun lima langkah tersebut terdiri dari, Ayo Pahami (sikap terbuka untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi); Mari Bicara (berani untuk memulai percakapan); Saling Menghargai (menghargai pendapat dan keputusan orang lain); Selalu Bertanggung jawab (bertanggung jawab atas diri sendiri, pasangan kita, dan keluarga kita); dan Pemeriksaan Kesehatan (mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin).

“Kami datang dengan inisiatif lima langkah sederhana ini untuk lebih memahami tentang diri Anda dan juga pendidikan kesehatan seksual. EDUKA5EKS adalah cara kami untuk menjangkau kaum muda, orang tua, dan pasangan di Indonesia untuk memastikan peningkatan kesadaran tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi,” ungkap Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia Helena Rahayu Wonoadi.

Durex turut mendorong konsumen untuk proaktif berkonsultasi dan berpartisipasi dalam kampanye tersebut di media sosial dengan tagar #Enaknyadiobrolin.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top