Penjualan Lesu? Berikut 3 Growth Marketing Strategy yang Layak Dicoba

marketeers article
growth marketing strategy | sumber: 123rf

Dinamika pasar sering kali membuat penjualan terasa lesu, lambat, dan tidak menunjukkan nilai yang positif. Para pebisnis cenderung gelisah melihat kondisi ini, bukan? 

Penjualan menurun berarti pendapatan menurun. Growth marketing strategy menjadi cara yang bisa dilakukan. 

Growth marketing strategy menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan Anda ketika dalam kondisi kurang baik-baik saja. Strategi growth marketing ini merupakan perpaduan antara brand marketing dengan performance marketing yang tujuannya untuk mendapat pelanggan sekaligus pendapatan yang ditargetkan perusahaan. 

Ketika penjualan terlihat bergerak lambat, maka growth marketer yang perlu mengambil peran. Berikut tiga growth marketing strategy yang telah Marketeers sadur dari Forbes, layak untuk marketer Anda coba:

1. Bangun konten di setiap tahapan perjalanan pembeli

Pemasaran tradisional masih sangat layak dilakukan untuk meningkatkan awareness produk di mata konsumennya. Pelanggan Anda akan melihat berbagai jenis iklan yang sering berganti dalam satu periode tertentu. 

Namun, setelah merek Anda terlihat cukup kuat, apakah pelanggan Anda benar-benar tertarik untuk membeli? Jawabannya mungkin belum tentu. 

Beberapa di antaranya mungkin melihat iklan merujuk pada kata-kata yang mengesalkan, kurang relevan, atau membingungkan. Ini menghambat calon pelanggan Anda untuk mau membeli dan mencoba produk Anda. 

Traditional marketing tak mampu berfokus di seluruh tahapan dalam customer journey. Inilah tugas pemasar untuk melakukan growth marketing, mencoba untuk menggunakan pendekatan yang berbeda, mengonversi setiap calon pelanggan agar menjadi pelanggan tetap di setiap tahapan customer journey. 

BACA JUGA: Branding vs Marketing: Dua Konsep yang Sering Bikin Pemasar Keliru

Content marketing menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan. Melalui konten, growth marketer berusaha untuk menyentuh pelanggan di setiap tahapan, mulai dari awareness, akuisisi, aktivasi, revenue, retensi, hingga referral. 

Setiap konten yang dibuat telah dipersonalisasi dan dikustomisasi sesuai dengan karakteristik audiens yang melihat. Tujuannya satu, agar konten terasa relevan dengan pelanggan. 

Dengan begitu, growth marketing strategy Anda dapat menghasilkan permintaan, pendapatan, hingga meningkatkan retensi pelanggan sekaligus. 

2. Optimalkan SEO pada konten Anda

Objektif dari dibuatnya konten online adalah untuk menghasilkan, menjaga, dan mengonversi pelanggan potensial untuk menjadi pelanggan tetap.  Konten yang dibuat harus dapat terlihat dan menarik perhatian audiens Anda secara efektif. 

Konten Anda sudah sangat baik, dibuat sedemikian rupa. Namun, jika pelanggan potensial tak bisa menemukannya, lalu konten Anda hanya menjadi sia-sia saja. 

Ini bisa terjadi jika konten Anda tidak menggunakan strategi Search Engine Optimization (SEO) yang tepat. Penggunaan SEO berarti membuat konten yang sesuai dengan permintaan pasar dan riset keyword yang akurat. 

Dengan SEO, konten Anda didorong untuk dapat up to date dengan berbagai perubahan algoritma dalam mesin pencarian. Konten SEO Anda harus dapat memenuhi pain points pelanggan, sehingga mereka merasa dipedulikan dan tertarik dengan produk Anda. 

Cara ini dapat menyumbang traffic organik pada pesan yang ingin Anda sampaikan.

BACA JUGA: 7 Perbedaan Selling dan Marketing, Salah Paham Bisa Salah Strategi!

3. Jangan lupakan omnichannel marketing

Growth marketing strategy berfokus pada membangun customer experience di setiap tahapan customer journey. Oleh karena itu, saluran pemasaran yang digunakan pun kemungkinan besar lebih dari satu. 

Apabila blog pada website menjadi pintu utama Anda untuk menghasilkan pelanggan potensial, namun Anda tak bisa hanya fokus di sana. Pemasaran Anda harus berkembang. 

Pelanggan potensial Anda ada di mana-mana. Mereka ada di media sosial, email, billboard dan TV. 

Mereka menunggu Anda untuk bisa menjangkau mereka. Anda harus mampu mengamplifikasi konten pemasaran Anda dengan terintegrasi namun tetap terpersonalisasi sesuai karakteristik audiens di masing-masing saluran pemasaran tersebut. 

Ini akan membuat strategi growth marketing Anda terasa begitu seamless dan personalized. Ketika pesan komunikasi terbangun dengan baik lintas media, maka akan terbangun authority dan kepercayaan. 

Ketika audiens menemukan adanya inkonsistensi dalam konten yang dibuat, maka hal tersebut akan memengaruhi penjualan Anda. Kepercayaan pelanggan Anda dapat diperoleh dengan konsistensi dan relevansi yang terjaga.

Itulah tiga strategi growth marketing yang dapat diimplementasikan ketika penjualan terlihat bergerak lambat. Penjualan yang negatif bisa disebabkan karena banyak hal. 

Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi pemicu mengapa hal tersebut bisa terjadi. Growth marketing strategy perlu dilakukan dari tahapan awal riset hingga pada akhirnya didistribusikan di semua saluran pemasaran yang potensial. 

BACA JUGA: Buat NGO Berkembang dengan 5 Tips Nonprofit Marketing!

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS