Potensi Pasar Ekonomi Hijau RI Tembus US$ 46 Miliar

marketeers article
Ilustrasi ekonomi hijau. Sumber gambar: 123rf.

Perusahaan modal ventura, AC Ventures bersama dengan Boston Consulting Group (BCG) mengeluarkan hasil riset terbarunya terkait dengan potensi pertumbuhan ekonomi hijau dan dekarbonisasi di Indonesia. Dari hasil penelitian, potensi pasar ekonomi hijau mencapai US$ 46 miliar atau setara dengan Rp 688,2 triliun (kurs Rp 14.963 per US$) pada tahun 2030.

Lauren Blasco, Principal Head of ESG AC Ventures menuturkan dalam laporan bertajuk Catalyzing Indonesia’s Green Growth Potential, potensi pasar optimalisasi gas rumah kaca mencapai US$ 350 miliar pada tahun 2030. Adapun kompensasi emisi potensi pasarnya sebesar US$ 3,5 miliar.

BACA JUGA: Tingkatkan Investasi, Pemerintah Fokus Garap Ekonomi Hijau

“Sebagai negara penghasil gas rumah kaca terbesar keempat di dunia, Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan dan sangat rentan terhadap risiko perubahan iklim. Namun, Indonesia juga memiliki potensi besar untuk beralih ke ekonomi hijau. Perubahan ini merupakan peluang bagi startup, usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM), dan investor untuk memainkan peran utama dalam mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan dan mengatasi perubahan iklim,” kata Lauren dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (13/7/2023).

Menurutnya, untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut secara maksimal, Indonesia dapat meningkatkan pendanaan untuk proyek-proyek berkelanjutan, mengembangkan kerangka regulasi yang mendukung, dan mendorong tenaga kerja yang terampil di bidang lingkungan. Langkah-langkah ini akan sangat penting bagi Indonesia dalam mencapai target pengurangan emisi yang ambisius pada 2030, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

BACA JUGA: UOB: Transisi Menuju Ekonomi Hijau Jadi Kunci Pertumbuhan Indonesia

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara (ASEAN) dan diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050, Indonesia memiliki kepentingan yang besar dalam melakukan transformasi menjadi pertumbuhan ekonomi hijau. Transformasi ini tidak hanya penting untuk keberlanjutan lingkungan, melainkan juga merupakan peluang bisnis yang sangat signifikan.

“Laporan tersebut memperkirakan nilai peluang pertumbuhan hijau di Indonesia sebesar US$ 400 miliar yang mencakup pendapatan industri dan potensi kompensasi karbon,” ujarnya.

Sementara itu, Marc Schmidt, Managing Director & Partner BCG Singapura menambahkan membangun ekonomi rendah karbon dan dekarbonisasi yang terkait akan memberikan peluang bagi para pemangku kepentingan di semua sektor, termasuk di dalamnya sektor UKM yang jumlahnya sangat besar di Indonesia. Partisipasi luas dari para inovator akan menjadi sangat penting untuk melaksanakan dan menjaga perubahan yang diperlukan dalam ekonomi Indonesia.

Dia bilang potensi besar dekarbonisasi dimiliki oleh Indonesia apabila bisa dikerjakan secara optimal. Sebagai contoh, permintaan internasional untuk kredit karbon sukarela diperkirakan meningkat secara drastis dengan kenaikan sekitar 27% setiap tahun hingga tahun 2030.

Saat ini, sekitar 30% dari cadangan karbon dunia terdapat di lahan gambut Indonesia saja. Ketika mengenalkan sistem perdagangan yang melibatkan pelestarian lahan gambut tersebut, Indonesia berpotensi menjadi pelaku utama di pasar yang sedang berkembang ini.

“Kami memproyeksikan pasar kredit karbon kami akan tumbuh menjadi 140 juta ton pada 2030, melompat jauh dari 40 juta ton yang diterbitkan dalam dekade terakhir. Dengan harga proyeksi sekitar US$ 25 per ton, pasar ini sendiri berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar US$ 3,5 miliar setiap tahun, menunjukkan peluang yang signifikan,” kata Marc.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS