Protes Kebijakan COVID-19, Masyarakat Cina Ramai-Ramai Unduh Twitter

marketeers article
Jajak Pendapat: Elon Musk Tak Layak Jadi CEO Twitter. (FOTO:123RF)

Aplikasi platform media sosial (medsos) Twitter mengalami lonjakan unduhan di Cina dalam beberapa hari terakhir. Peningkatan itu sejalan dengan aksi protes yang meluas secara nasional atas pembatasan COVID-19 yang ketat oleh pemerintah Cina.

Dilansir dari Techcrunch, Selasa (29/11/2022), Twitter menjadi salah satu aplikasi yang banyak diunduh di Cina pada hari ini dan menempati peringkat kesembilan di antara seluruh aplikasi gratis di App Store. Berdasarkan data analitik dari perusahaan aplikasi SensorTower, peringkat itu bahkan naik cukup pesat dibanding sebelumnya yang berada di 150.

BACA JUGA: Elon Musk: Pendaftar Twitter Capai Jumlah Terbanyak Sepanjang Masa

Dari informasi yang tersebar, diskusi mengenai protes pembatasan COVID-19 meningkat, dan masyarakat di kota-kota besar serta universitas Cina memutuskan untuk menerobos berbagai aturan. Namun, di sisi lain, masyarakat tak bisa menyebarkan informasi lewat medsos lokal lantaran kebijakan sensor pemerintah Cina.

Alhasil, mereka beralih ke platform medsos asing, seperti Twitter untuk menyebarkan informasi dan menggunakan Telegram guna mengoordinasi gerakan demonstrasi. Lonjakan unduhan itu terbilang mengejutkan lantaran aplikasi Twitter telah lama diblokir oleh ‘Great Firewall’ Cina.

BACA JUGA: Elon Musk Segera Luncurkan Layanan Verifikasi, Ada Centang Emas

Mengakses aplikasi di Cina memerlukan penggunaan alat sensor khusus atau jaringan pribadi virtual. Namun, aplikasi tersebut tetap tersedia untuk diunduh di App Store, atau sistem operasi iOS milik Apple setidaknya sejak Februari 2019. 

Untuk mengukur unduhan melalui smartphone Android jauh lebih rumit. Pasalnya, Google Play memang tidak tersedia untuk smartphone Android.

Toko aplikasi berbasis Android dioperasikan oleh berbagai perusahaan teknologi lokal, seperti Huawei dan Xiaomi yang cenderung mengikuti aturan sensor lokal secara ketat. Apple juga dalam beberapa tahun terakhir mendapat kecaman karena tunduk pada permintaan sensor pemerintah Cina.

Bahkan, saat pengguna yang berbasis di Cina berhasil mengakali ‘Great Firewall’ dan membuka Twitter, mereka akan kesulitan menemukan informasi yang mereka butuhkan. Akun bot memborbardir pencarian kota-kota Cina dengan tweet porno, iklan hingga tautan perjudian sehingga menyulitkan mencari berita terkait aksi protes.

Hal tersebut juga diperparah dengan aksi Elon Musk, CEO Twitter yang baru-baru ini memecat tim yang bertugas untuk memerangi propaganda dan informasi hoaks. Dengan meningkatnya aktivitas bot berbahasa Mandarin, sulit untuk mengetahui berapa banyak pemasangan aplikasi baru milik para pengunjuk rasa.

Related