Resource & Energy

Saatnya Memasuki Era Turisme 5.0

Sumber: 123RF

Pengelolaan pariwisata di Indonesia harus memperhatikan aspek keberlangsungan (sustainable tourism). Bila tidak menuju ke arah tersebut, pariwisata Indonesia akan kehilangan banyak peluang sesudah pandemi usai. Hal ini disampaikan oleh Hermawan Kartajaya, Founder and Chairman MarkPlus, Inc. dalam paparannya di ajang virtual The 2nd Planet Tourism Indonesia 2021, “Beyond Recovery, Towards Sustainability,” Rabu (22/09/2021).

Sustainable tourism itu menjadi sebuah keharusan. Para pengelola wisata harus mampun berperan sebagai navigator untuk mengarahkan para turis yang tak lain menjadi driver dalam industri ini,” ujar Hermawan.

Hermawan mengatakan saat ini adalah era Turisme 5.0. Hal ini merupakan pengimplementasian konsep Marketing 5.0 yang mengedepankan integrasi antara teknologi dan humanity dalam lanskap pariwisata. “Pengelolaan turisme di era sekarang tidak hanya mengandalkan mesin saja, tetapi juga tetap perlu bantuan manusia,” katanya.

Ada lima elemen Marketing 5.0 yang bisa diterapkan dalam pengelolaan pariwisata. Kelimanya, antara lain data-driven marketing, predictive marketing, contextual marketing, augmented marketing, dan agile marketing. Hermawan mengatakan, untuk dua disiplin baik itu data-driven marketing dan agile marketing bisa diserahkan pada mesin. Sedangkan tiga aplikasi lainnya mau tidak mau tetap perlu campur tangan manusia.

Terkait data-driven marketing, Hermawan mencontohkan Airbnb yang memanfaatkan datadog untuk menggali insight dan tren di kalangan pelanggannya. Dengan bantuan mesin yang mampu mengolah data tersebut, Airbnb bisa memberikan layanan yang lebih tepat dan memuaskan. Hermawan menegaskan peran penting big data di era saat ini.

Mabrian Technologies menjadi contoh yang disampaikan Hermawan terkait predictive marketing. Menurutnya, kemampuan mesin untuk mengolah data dan diintegrasikan dengan kemampuan manusia untuk memberikan insight dan wisdom mengantar Mabrian Technologies mempraktikkan pemasaran yang efektif.

Contextual marketing yang diterapkan oleh Switzerland Tourism sangat menarik. Turis disapa oleh sosok manusia dalam perangkat teknologi. Keduanya saling berdialog dan bisa mencetak tiket saat itu juga. Ini luar biasa,” kata Hermawan.

Selanjutnya, augmented marketing yang dipraktikkan oleh Singapore Tourisme Board untuk memperkenalkan pariwisata di Singapura bisa menjadi inspirasi. Demikian juga dengan agile marketing yang dilakukan oleh Booking.com, salah satu perusahaan travel digital.

“Saya punya pengalaman sendiri bagaimana pentingnya integrasi antara mesin dan manusia. Saya suka melakukan cruise. Saya tak bisa membayangkan bila proses layanan serba teknologi saja. Sentuhan manusia memberi pengalaman berbeda. Ini menjadi bukti bahwa mesin tanpa manusia itu percuma,” pungkas Hermawan.

MARKETEERS X








To Top