Seberapa Besar Potensi Q-Big, Ritel Terbesar Sinarmas?

profile photo reporter Saviq Bachdar
SaviqBachdar
20 Desember 2016
marketeers article
Apa yang bisa dilakukan oleh pengembang yang memiliki landbank seluas 10.000 hektare? Pengembang properti kawakan Sinarmas Land punya cara dalam menghabiskan sisa-sisa lahannya. Seperti yang dilakukannya dengan membuka kompleks ritel terbesar di Indonesia bernama Q-Big BSD City.
Q-Big berkonsep Power Center yang memuat para anchor tenant dengan luas ritel sekitar 5.000 m2 sampai 10.000 m2. Adapun total luas area Q-Big mencapai 17,5 hektare.
Menurut keterangan perusahaan, okupansi Q-Big telah menyentuh angka 90%. Total, ada sebelas peritel yang telah bergabung, antara lain tiga dari Kawan Lama Retail (Ace Hardware, Informa, dan Toys Kingdom), Lulu Hypermarket, Ashley, Mitra 10, Artland, Fashionable Moslem Gallery, Truly Premium Outlet, The Sport Warehouse, dan Playland Fun and Fit.
Tak cukup dengan ritel yang besar-besar, kompleks yang menelan biaya investasi sebesar Rp 600 miliar di luar lahan ini turut dilengkapi berbagai fasilitas seperti mini forest, fish pond, water cascade, green tiered seating, green steps, dan green mound sculpture.
Memang, lokasi yang besar membuat konsumen harus berjalan cukup jauh antara satu ritel dengan ritel lain. Akan tetapi, Sinarmas Land telah menyediakan kanopi besar yang menghubungkan seluruh ritel, sehingga konsumen terlindungi dari sinar matahari langsung.
Selain itu, Q-Big juga meyediakan shuttle bus untuk menjemput dan mengantarkan pengunjung dari berbagai lokasi di sekitar BSD City. Tersedia pula fasilitas buggy untuk mengantarkan pelanggan berkunjung dari satu toko ke toko lainnya
Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Sinarmas Land hadir dengan ide konsep mega big box ini? CEO Retail & Hospitality Sinarmas Land Alphonzus Widjaja mengatakan, Q-Big memiliki konsep yang unik yang belum dimiliki oleh pengembang mal manapun di Indonesia. Sehingga, ia meyakini konsep yang baru ini dapat menarik pengunjung yang telah “jenuh” mengunjungi mal-mal biasa.
Sedangkan dari sisi perdagangan, Alphons berharap Q-Big dapat menjadi destinasi perdagangan baru, yang tidak hanya berpusat di Jakarta, tetapi bergeser ke Provinsi Banten. “Sehingga destinasi perdagangan bisa lebih merata dan menyebar di wilayah Jabodetabek,” kata Alphonzus di Tangerang, (16/12).
Lebih lanjut, ia bilang, kehadiran Q-big BSD City dapat mendorong perekonomian Banten, khususnya di sektor informal yang diwakili oleh para UMKM.
Di sisi lain, jika seluruh lahan sewa sudah terisi penuh, Q-Big ditaksir mampu menyedot 5.000 tenaga kerja langsung di Kabupaten Tangerang. Adapun, kata Alphons, target transaksi per bulan di Q-Big dapat menembus Rp 300 miliar.
Kontribusi Pusat Belanja
Pusat belanja memang memberikan benefit bagi perusahaan properti. Pasalnya, saat sektor properti hunian surut, sektor komersial seperti mal masih memberikan pundi-pundi pendapatan bagi perusahaan atau dikenal dengan recurring income.
Alphonzus mengatakan, pusat belanja Q-Big dapat memberikan kontribusi pendapatan berulang ke bisnis pusat belanja Sinarmas Land sekira 10%-15%. Ia melanjutka , pusat belanja yang dikembangkan Sinarmas Land di BSD City sudah cukup proporsional. Selain Q-Big, di sana sudah tersedia The Breeze dan AEON Mall.
“Saya rasa, pusat belanja di BSD City sudah cukup memenuhi kebutuhan para penghuni BSD City. Jadi, dalam waktu dekat, belum ada rencana membangun mal lagi di sini,” terang Alphons sebelumnya kepada Marketeers.
Michael Widjaja, CEO Sinarmas Land menyatakan, saat ini perusahaannya telah memiliki 20 pusat belanja yang terdiri dari beragam segmen pasar, baik kelas bawah, menengah, hingga atas. Dari mulai kelas ITC hingga mal premium Plaza Indonesia yang 40% sahamnya dimiliki oleh perusahaan yang didirikan oleh konglomerat Eka Tjipta ini.
Michael mengatakan, sampai saat ini, kontribusi divisi pusat belanja mencapai 30% dari total pendapatan perusahaan. “Kami menjaga kestabilan pendapatan dari unit pusat belanja. Sebab, e-commerce membuat banyak orang jadi malas belanja ke toko offline,” tutur Michael.
Karena itu, Michael memandang moderat pertumbuhan bisnis pusat belanja, yang diyakininya tumbuh antara 10%–12%.
Berbeda dengan Michael, Alphons mengatakan karakter orang Indonesia pada dasarnya suka berkumpul. Hal itu menjadikan mal masih memiliki daya tarik bagi sebagian besar masyarakat. “Kita tidak khawatir dengan e-commerce. Sebab, shopping experience tidak bisa dibeli dengan online,” tuturnya.
 
Editor: Eko Adiwaluyo

Related